KABUPATEN ASMAT


I.KEADAAN SOSIAL

1.GEOGRAFIS

Kabupaten Asmat berada di bagian selatan Provinsi Papua dengan luas wilayah 23.746 kilometer persegi dan terletak antara 137o30’”- 139°90’’’ Bujur Timur dan 4°40’- 6°50’ Lintang Selatan. Kabupaten Asmat berbatasan di sebelah utara dengan Kabupaten Jayawijaya dan Yahokimo, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Mappi dan Laut Arafura, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Miimika dan Laut Arafura, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Mappi dan Kabupaten Boven Digoel. Letak yang demikian menempatkan Kabupaten Asmat pada posisi geografis yang sangat strategis karena berada di kawasan rim Pasifik Selatan (Australia dan New Zeland serta negara-negara sirkum Pasifik).

2.TOPOGRAFI

Umumnya berdataran rendah, kemiringan 0-8 persen, pesisir pantai berawa-rawa tergenang air, bagian utara dan timur agak tinggi. Ketinggian air pasang surut 5 – 7 meter,  air pasang laut masuk sampai  sejauh 50  – 60 kilometer dan  beberapa   tempat  terintrusi  air asin/air laut, serta memiliki ketinggian antara 0 – 100 meter di atas permukaan laut. Daerah bergelombang dan berbukit berada di wilayah Distrik Sawaerma sampai ke Distrik Suator. Pada daerah dataran rendah dan berawa dialiri oleh sungai-sungai besar seperti Sungai Weldeman, Siretz,  Aswetz, Lorentz dan Bets. Sungai-sungai tersebut memiliki peranan penting bagi kehidupan masyarakat sebagai sarana transportasi, sumber air irigasi, tenaga listrik, air minum serta memiliki potensi perikanan dan pariwisata yang besar.

3.IKLIM

Kabupaten Asmat ber iklim tropis dengan musim kemarau dan penghujan yang tegas. Curah hujan dalam setahun rata-rata 3.000 milimeter hingga 5.000 milimeter dengan hari hujan sekitar 200 hari setahun. Suhu udara rata – rata  pada siang hari 26ºC dan pada malam hari 17ºC. Curah hujan tertinggi terjadi di wilayah pedalaman, sedangkan curah hujan terendah terjadi di pesisir pantai selatan tepatnya di Pantai Kasuari. Tingkat kelembaban udara cukup tinggi karena dipengaruhi oleh iklim tropis basah, kelembaban rata-rata berkisar antara 78 persen hingga 81%. Suhu   udara  rata – rata disiang hari 26ºC hingga 29ºC dan   pada  malam  hari 17ºC – 20ºC.

4.KEPENDUDUKAN

Perbandingan antara luas wilayah dan jumlah  penduduk Kabupaten Asmat saat ini tidak proporsional. Berdasarkan data Asmat dalam Angka Tahun 2003 penduduk Kabupaten Asmat berjumlah 67.613 jiwa, atau mempunyai kepadatan penduduk 2,85 jiwa per kilometer persegi. Penyebaran dan kepadatan penduduk di Kabupaten Asmat tidak merata antara satu distrik dengan distrik lainnya. Distrik Pantai Kasuari adalah distrik dengan jumlah penduduk terbesar, yaitu sebanyak 14.825 jiwa, sedangkan distrik dengan jumlah penduduk terendah adalah Distrik Fayit dengan jumlah penduduk sebanyak 5.549 jiwa (Asmat Dalam Angka Tahun 2003).

Berdasarkan struktur umur, pada tahun 2003 jumlah usia produktif penduduk Kabupaten Asmat (usia 15 – 64 tahun) sebesar 39.615  jiwa, yaitu sekitar 58.59 persen dari total 67.613 jiwa dari jumlah penduduk Kabupaten Asmat. Namun potensi penduduk di usia produktif ini tidak didukung oleh kualitas pendidikan yang memadai yang berguna bagi produktivitas dan kinerja di segala bidang dan sektor pembangunan. Jumlah penduduk yang berada pada usia produktif sebagian besar berpendidikan sekolah dasar atau belum tamat sekolah dasar.

5.PENDIDIKAN

Pembangunan pendidikan belum menunjukkan kemajuan yang berarti ditandai dengan Angka Partisipasi Murni Sekolah Dasar (SD) sebesar 32.68 persen pada tahun 2003. Angka Partisipasi Murni Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebesar 15,98 persen pada Tahun 2003. Sedangkan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sebesar 1.78 persen  pada tahun 2003. Sedangkan kemajuan pembangunan prasarana pendidikan telah memberikan gambaran tentang kondisi kependidikan di Kabupaten Asmat yang semakin membaik, dimana pada tahun 2003 jumlah Sekolah Dasar dan SLTP yang merupakan pendidikan dasar sembilan tahun, yang telah dibangun  mencapai 105 SD dan 8 SLTP serta jumlah Sekolah Menengah Umum hanya 1 SMU.

Sementara jumlah murid ditingkat SD pada tahun 2003 berjumlah 7.955 murid dengan didukung jumlah tenaga pengajar sebanyak 352 Guru, sehingga rata-rata perbandingan murid dan guru sebesar 37 dan murid per sekolah 143. Untuk SLTP jumlah murid sebanyak 2.051 murid dengan didukung tenaga pengajar 71 guru, sehingga rasio antara murid dan guru di tingkat SLTP sebesar 37,5 dan rasio jumlah murid dan sekolah sebesar 420.

Sedangkan  untuk  tingkat SLTA jumlah murid sebanyak 218 dan jumlah guru sebanyak 16, sehingga rasio antara murid dan guru sebesar 14 dan perbandingan antara murid dan sekolah sebesar 218. Angka rasio antara murid dan guru, murid dan sekolah menunjukkan angka perbandingan yang cukup besar, sehingga terlihat kekurangan pelayanan pendidikan khususnya dalam jumlah guru dan sekolah.

 

6.KESEHATAN

Perkembangan pelayanan kesehatan di Kabupaten Asmat yang ditunjukkan dengan jumlah prasarana pelayanan di bidang kesehatan kurang menunjukkan peningkatan yang berarti. Sampai dengan tahun 2003 Kabupaten Asmat belum memiliki Rumah Sakit, hanya memiliki Puskemas Perawatan sebanyak 5 buah dan Puskesmas Pembantu sebanyak 21 buah dan jumlah Polides sebanyak 15 buah kemudian pelayanan kesehatan di daerah – daerah perairan sungai ditunjang dengan sarana Puskesmas Keliling.

Tenaga medis untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sampai dengan tahun 2003 berjumlah 6 orang tenaga dokter umum. Sedangkan jumlah paramedis sebanyak 95 bidan dan 129 perawat. Jumlah paramedis masih berada dibawah rata-rata tingkat kebutuhan masyarakat. Sampai tahun 2003, sebagian besar masyarakat masih menderita penyakit malaria, diare, kulit, asma, saluran pernapasan dan cacar air.

Dengan rincian jumlah penderita  untuk penyakit malaria sebanyak 15.309 orang, penyakit diare sebanyak 8.026 orang, penyakit kulit sebanyak 6.260 orang, penyakit asma 3.013 orang,  penyakit saluran pernapasan 8.209 orang dan penyakit cacar air 271 orang. Di bidang Keluarga Berencana, banyaknya akseptor aktif pada akhir tahun 2003 mencapai 1.940 pasangan, sedangkan akseptor baru berjumlah 201 pasangan. Sampai dengan saat ini kondisi pelayanan kesehatan di Kabupaten Asmat masih belum memadai karena keterbatasan jumlah tenaga medis dan para medis serta prasarana dan sarana pendukung pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.

Pembangunan kesejahteraan sosial telah menunjukan hasil-hasil positif berupa pembinaan masyarakat terasing/komunitas adat terpencil, utamanya di daerah pedalaman dan terpencil dan tertanganinya rehabilitasi korban bencana alam. Namun tingkat pelayanan yang diberikan oleh pemerintah masih sangat terbatas karena kesulitan di dalam berbagai hal, antara lain : jangkauan wilayah pelayanan yang terlalu luas, terbatasnya prasarana pendukung, dan terbatasnya biaya operasional.

7.POTENSI WILAYAH

Kabupaten Asmat merupakan kabupaten yang  memiliki SDA yang besar dan beraneka ragam baik yang terdapat di darat, laut. Mengingat potensi SDA sebagai salah satu modal dalam pembangunan maka pemanfaatannya dan pengelolaannya hendaknya dilakukan secara optimal, arif, dan memperhatikan keseimbangan ekologi.

7.1.Sumberdaya Hutan.

Sumber daya hutan termasuk potensial bagi pembangunan perekonomian daerah. Potensi sumberdaya hutan di Kabupaten Asmat adalah 2.785.600 Ha. Kabupaten Asmat juga memiliki hutan dengan fungsi sebagai hutan lindung, hutan wisata, hutan pelestarian alam (Taman  Nasional Lorentz), dan hutan produksi (hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas, produksi yang dikonversi).,

           Sumber daya hutan termasuk potensial bagi pembangunan perekonomian daerah. Sumberdaya hutan merupakan sumberdaya terbesar yaitu hutan lindung 149.400 ha, hutan PPA 4866.200, hutan produksi 1.464.000 dan hutan produksi yang dapat dikonversi 686.000 ha. Di samping itu, Kabupaten Asmat juga memiliki tipe hutan yang sangat khas dan sangat lengkap antara lain hutan payau, pantai, rawa/gambut, hujan tropis tanah kering dan basah, hutan musim, hutan sagu, nipa, fungsi dan tipe hutan tersebut memiliki komoditi yaitu kayu dan non kayu, satwa liar dan berbagai ragam biota yang ada didalamnya. Apabila dilihat dari aspek jasa hutan, maka merupakan sarana pendukung lingkungan hidup yang sangat penting dan utama.

      Sumberdaya Air

Sumberdaya air merupakan kebutuhan dasar semua mahluk hidup. Mengingat arti pentingnya sumberdaya air maka sumberdaya ini sangat perlu dilestarikan, baik air permukaan maupun air tanah. Sumberdaya air untuk kebutuhan air irigasi dan air bersih  di Kabupaten Asmat sangat terbatas. Hal ini sangat dirasakan oleh masyarakat terutama pada musim kemarau panjang. Dimasa mendatang sungai Wedelman dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi.

7.3.  Sumberdaya Pesisir dan Kelautan

Kabupaten Asmat memiliki potensi perairan yang sangat besar seperti perikanan, mangrove, tambang minyak lepas pantai yang belum dieksploitasi.Pembangunan wilayah pesisir dan lautan Kabupaten Asmat merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan sumberdaya yang lain baik yang terdapat di darat maupun di laut dan tetap menjaga kelestariannya. Pengelolaan wilayah pesisir dan lautan dilaksanakan secara kontinyu dan dinamis dengan memperhatikan aspek sosial budaya, ekonomi, konservasi, kelembagaan formal maupun informal yang ada pada masyarakat. Kondisi potensi sumberdaya alam pesisir dan lautan Kabupaten Asmat cukup bervariasi, baik yang masih dalam keadaan baik maupun yang sudah terdegradasi serta adanya konflik kepentingan dalam pengelolaan wilayah pesisir dan lautan. Terjadi pengrusakan lingkungan laut akibat eksploitasi hasil laut secara ilegal.

II. KEADAAN EKONOMI

2.1.  Kondisi Perekonomian

Kondisi umum pembangunan ekonomi di Kabupaten Asmat memperlihatkan suatu  kecenderungan kearah kemajuan yang terlihat dari pertumbuhan peningkatan perekonomian kerakyatan dari waktu ke waktu dan dapat diindikasikan oleh empat aspek yakni perkembangan PDRB, sektor keuangan daerah, sektor perbankan, dan perkembangan harga-harga.

      Perkembangan PDRB

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Asmat pada  tahun 2003 mencapai 1,95%. Secara umum sektor-sektor ekonomi mengalami kenaikan laju pertumbuhan kecuali sektor pertanian, yang mengalami laju pertumbuhan sebesar negatif 0,10%.

Sektor-sektor yang mengalami pertumbuhan paling tinggi pada tahun 2003  adalah sektor angkutan dan komunikasi dengan angka pertumbuhan tercatat 24,23%, peringkat lainnya adalah sektor listrik dan air bersih mencapai 16,46%, sedangkan sektor perdagangan, hotel dan restoran berada pada posisi ketiga dengan angka pertumbuhan sebesar 8,95%.

Pada tahun 2003 kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB mencapai 67,53% dan pada tahun 1999 sebesar 72,96%. Posisi kedua adalah sektor jasa-jasa yang pada tahun 2003 kontribusinya tercatat 15,27%, sedangkan pada tahun 1999 tercatat 14,40%. Besarnya kontribusi pada sektor-sektor jasa berasal dari sub sektor jasa pemerintahan umum, bukan berasal dari subsektor jasa-jasa lainnya. Peringkat ketiga ditempati oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan peranan pada tahun 1999 sebesar 3,68% dan tahun 2003 meningkat menjadi 6,10%

      Perdagangan, Dunia Usaha, dan Investasi

Kegiatan perdagangan di Kabupaten Asmat telah berkembang pesat sejalan dengan semakin tumbuhnya kegiatan perusahaan seperti kehutanan, perikanan, perindustrian. Pembangunan industri masih didominasi oleh industri rumah tangga, kerajinan ukiran Asmat dan industri. Belum berkembangnya sektor industri sebagai akibat belum adanya pusat-pusat pendidikan dan pelatihan, demikian pula dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Daerah. Pembangunan koperasi belum berkembang seperti yang diharapkan. Hal ini disebabkan antara lain karena pembinaan yang dilakukan belum disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masyarakat di daerah, lemahnya kemampuan manajemen dan permodalan serta masih terbatasnya ketersediaan prasarana dan sarana koperasi terutama di perdesaan.Pembangunan perdagangan masih didominasi oleh perdagangan dalam negeri yang terkonsentrasi di perkotaan dan masih didominasi oleh kelompok masyarakat pendatang yang jauh lebih siap dan maju. Belum berkembangnya pembangunan perdagangan antara lain karena belum memadainya prasarana dan sarana perdagangan seperti jalan, alat angkutan, pasar, pembinaan manajemen dan kelembagaan. Untuk perdagangan luar negeri masih didominasi produksi hasil kehutanan dan perikanan.Pembangunan dunia usaha belum berkembang baik, hal ini disebabkan karena kemampuan masyarakat dalam dunia usaha masih terbatas dan masih kurangnya pembinaan manajemen dan permodalan serta terbatasnya prasarana dan sarana demikian pula dengan peluang dan kesempatan yang terbatas.Perkembangan kelembagaan keuangan masih didominasi oleh lembaga keuangan pemerintah dan swasta, sedangkan lembaga keuangan masyarakat masih sangat terbatas, untuk Kabupaten Asmat masih hanya dua Bank yakni Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Rakyat Indonesia, kedua Bank tersebut masih bersifat perwakilan, kondisi ini sangat memprihatinkan sirkulasi peredaran uang di  wilayah distrik dan desa. Selain itu karena masih terbatasnya ketersediaan tenaga kerja yang siap pakai, dan masih rendahnya frekuensi promosi potensi Kabupaten Asmat baik antar wilayah distrik antar daerah, antar wilayah didalam negeri dan keluar negeri. Demikian pula belum optimalnya kerjasama sub-regional dan regional yang melibatkan dunia usaha.

2..4. Kondisi Sarana dan Prasarana

Prasarana dan sarana memegang peranan dalam mendukung pengembangan wilayah, seperti perhubungan, air bersih, listrik dan sebagainya. Prasarana dan sarana yang dibangun masih dirasakan belum dapat memenuhi kebutuhan minimum masyarakat, terutama yang ada pada daerah terpencil, pedalaman. Dilakukan penyedian prasarana dan sarana baik perkotaan maupun pada daerah pedalaman terpencil. Untuk prasarana dan sarana transportasi diprioritaskan mendukung pengembangan antar wilayah, antar distrik dengan model transportasi terpadu yang dapat melayani permintaan kebutuhan pelayanan.

Pembangunan jalan desa untuk menghubungkan antar desa, antar desa dengan distrik, jaringan jalan lokal dan jaringan jalan utama yang ada, akan diupayakan untuk pengembangan jenis transportasi yang sesuai karakteristik dan kondisi topografi serta ketersediaan material pembangunan jalan di masing-masing distrik, misalnya kereta api. Pembangunan transportasi selama ini masih diutamakan untuk lebih mendorong munculnya akivitas ekonomi dan meningkatnya pelayanan sosial masyarakat terutama pada daerah pedalaman, terpencil, sehingga kedepan dalam mendukung pengembangan wilayah sejalan dengan pelaksanan otonomi.

Pembangunan jaringan baru diarahkan untuk mendukung pengembangan wilayah, perlu juga peningkatan struktur serta kapasitas jalan yang sudah ada sesuai dengan pertumbuhan frekwensi pergerakan lalu lintas yang terjadi. Langkah lain yang akan dilakukan ke depan adalah menserasikan hubungan antar jaringan lokal dengan jaringan jalan utama sehingga tercipta suatu sistem jaringan yang berdaya guna.Transportasi laut melalui penyediaan prasarana dan sarana untuk meningkatkan pelayanan yaitu pembangunan dermaga dan fasilitas pendukung,  peningkatan frekuensi pelayanan antar distrik dan keluar daerah Kabupaten Asmat  dengan kapal cepat, peningkatan pelayanan angkutan perintis. Prioritas pembangunan dermaga yaitu dermaga Agats sehingga dapat melayani pelayaran internasional melalui laut dalam menghadapi pasar bebas. Hasil pembangunan transportasi laut sampai dengan akhir tahun 2003 masih dirasakan  kurang memberikan manfaat pelayanan minimal bagi upaya mendukung peningkatan pendapatan masyarakat lokal, terutama bagi masyarakat yang ada di daerah terpencil, pesisir pantai karena luasnya wilayah pelayanan dan sarana yang sangat terbatas. Hal ini disebabkan pendekatan pembangunan transportasi laut dilakukan dalam skala kecil dan sporadis, dan lambatnya pertumbuhan ekonomi pada berbagai tingkatan yang akan menjadi pendorong pertumbuhan hubungan sektor laut.

Pengembangan transportasi udara dilakukan peningkatan bandara Ewer-Agats, dengan kapasitas jenis pesawat Twin Otter sedangkan penerbangan Perintis, kondisi pesawat pada umumnya sudah tua dan kondisi medan yang sangat berat serta keadaan cuaca yang selalu berubah-ubah menyebabkan sering tertundanya penerbangan. Jangkauan pelayanan pos, telekomunikasi dan informasi, belum mencapai seluruh wilayah kecamatan dan pusat pemukiman, disebabkan luasnya pelayanan dan terbatasnya prasarana dan sarana, sedangkan pembangunan meteorologi dan geofisika masih kurang memberikan informasi bagi keselamatan transportasi dan pengembangan kegiatan produksi, disebabkan terbatasnya prasarana dan sarana.

About Musnanda

GIS Specialist, Regional Planner and Knowledge Manager
This entry was posted in Asmat, Geography, Indonesia, Papua and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s