Lesson Unlearned: Pengembangan Food Estate


Pemerintah mencanangkan program pembangunan food estate di Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah. Target area-nya mencapai 600-an ribu hektar, dimana di Kalteng ditargetkan 168.000 hektar dengan lokasi di Pulang Pisau. Pada 2020 akan dikerjakan seluas 30.000 ha sebagai model percontohan. Lahan ini akan ada di Kabupaten Pulang Pisau seluas 10.000 ha dan Kapuas 20.000 ha.

Rencana pembangunan food estate ini mendapat banyak reaksi negatif dan positif. Beberapa lembaga lingkungan hidup misalnya menyoroti rencana ini karena dianggap akan mengulangi kesalahan yang sama ketika program dilakukan sebelumnya dalam program PLG dengan target 1 juta hektar, dimana sampai saat ini kawasan ini masih merupakan kawasan didominasi kawasan terbuka dan tidak diusahakan. Protes lainnya dari masyarakat lokal yang merasa bahwa progran PLG sebelumnya merugikan masyarakat baik dari sisi kualitas lingkungan yang menurun maupun terkait hak masyarakat adat. Tanggapan positif misalnya dari dunia usaha, dimana kawasan ini direncanakan di kelola oleh bisnis korporasi petani, BUMN dan rencananya akan melibatkan kelompok tani.

Terlepas dari tanggapan positif dan negatif, sebagai pelaku bidang konservasi ada banyak pertanyaan terkait dengan rencana ini.

Evaluasi Project Food Estate Sebelumnya.

Salah satu titik awal yang bisa diambil pada pengambilan kebijakan berskala besar adalah melakukan evaluasi dari kebijakan sebelumnya. Dalam konteks Kalimantan misalnya perlu sekali melakukan kajian Evaluasi dari PLG 1 juta hektar. Evaluasi dalam konteks saat ini termasuk evaluasi kegagalan dan evaluasi program penanganan kegagalan dari mega proyek 1 juta hektar. Hasil evaluasi akan menjadi bahan dalam menyusun kebijakan baru yang serupa dengan kondisi wilayah yang sama.

Ada banyak kajian yang sudah dilakukan untuk menilai project PLG 1 juta hektar, beberapa kajian misalnya menyebutkan mengenai kondisi lahan gambut yang memang unik dan sangat berbeda dengan lahan mineral sehingga diperlukan effort besar untuk memastikan kawasan dapat ditanami dan produktif. Ekosistem gambut yang unik lainnya terkait dengan tata air, dimana air di kawasan ini bersifat asam dan tidak bisa langsung digunakan untuk tanaman yang bukan dari habitat gambut. Ada banyak evaluasi lain terkait dengan masyarakat baik masyarakat adat maupun masyarakat transmigran yang didatangkan saat project berjalan. Pendapat kontra antara lain terkait dengan mengabaikan pola-pola tradisonal pengelolaan gambut yang lestari yang ada sebelumnya.

Wilayah lain dengan rencana food estate adalah kawasan Merauke, yang juga mendapat banyak pro dan kontra. Ada banyaknya pendapat kontra terkait dengan project MIFEE dikaitkan dengan isu lingkungan hidup dan juga sosial. Ada banyak riset mengenai pelaksanaan MIFEE di Merauke, tetapi mungkin perlu kajian detail pemerintah untuk menilai kebijakan food estate sebelumnya sebagai bahan pelajaran.

Infrastruktur Pendukung

Pengembangan food estate dilakukan dengan rencana penerapan sistem pertanian berbasis teknologi dan hilirisasi. Rencana ini hanya dapat dilakukan dengan membangun infrastruktur pendukung yang memadai. Dari berbagai sumber berita, dapat disimpulkan bahwa program akan dilakukan dengan menggunakan pendekatan berbasis Industri 4.0 dan ‘precision agriculture’ dimana konsep ini akan menggunakan teknologi terbaru dalam merencanakan program pertanian yang ada.

Beberapa tulisan mengenai kegagalan project PLG dan MIFEE misalnya menggarisbawahi ketidak siapan infrastruktur pendukung seperti infrastruktur transportasi dan penyedia alat produksi.

Beberapa ide di kebijakan food estate 2020 misalnya muncul terkait penggunaan drone untuk pemupukan. Ini akan menjadi sebuah lompatan teknologi dalam pertanian. Pertanyaan lanjutannya adalah apakah teknologi dan infrastruktur-nya sudah siap? Berapa drone dibutuhkan untuk 168.000 hektar? Bagaimana jalur terbangnya? Apakah dibutuhkan infrastruktur tambahan seperti ketersediaan akses internet?

Sumber Daya Manusia Pendukung

Sumberdaya manusia pada sektor pertanian menjadi satu modal dasar penting. Rencana program untuk mengikut sertakan kelompok masyarakat petani lokal harus dilakukan dengan melakukan kajian detail mengenai kuantitas dan kualitas SDM yang ada. Berdasarkan beberapa sumber berita disebutkan kegiatan ini akan dilakukan oleh koorporasi dengan melibatkan kelompok tani per 100 hektar dan gabungan kelompok tani per 1000 hektar. Rencana ini tentunya perlu didukung dengan baseline yang detail mengenai ada berapa kelompok tani di Kalteng saat ini dan ada berapa gabungan kelompok tani di Kalteng.

Sumberdaya manusia dalam konteks kualitas tentunya menjadi hal lain, mengingat kegiatan akan dilakukan dengan menerapkan teknologi. Pertanyaannya adalah apakah masyarakat yang ada sudah memiliki kemampuan beradaptasi dalam penggunaan teknologi pertanian? Jika belum tentunya apakah sudah direncanakan proses pembangunan kapasitas untuk menggunakan teknologi pertanian.

Ketersediaan sumberdaya manusia dari sisi kuantitas juga menjadi sorotan lain. Project PLG 1 juta hektar misalnya menggandalkan ketersedian dengan program transmigrasi. Apakah ini sebuah jawaban atas kekurangan SDM lokal atau justru menjadi awal dari permasalahan lainnya. Beberapa kajian misalnya menyebutkan bahwa transmigran kemudian menjual lahannya kepada jenis kegiatan perkebunan dan beralih menjadi pekerja perkebunan.

Jangan Abaikan Aspek Konservasi Lingkungan Hidup

Ini merupakan concern terbesar yang akan saya kupas lebih jauh. Aspek lingkungan hidup menjadi pelajaran berharga pada program PLG 1 juta hektar. Salah satu kajian ilmiah menyebutkan bahwa kanal/saluran air yang membelah kawasan PLG sepanjang 187 km merupakan salah satu kegiatan yang mengabaikan aspek konservasi, karena merusak tata air yang ada di wilayah gambut.

Mengukur Nilai Jasa Lingkungan

Salah satu yang belum dihitung dengan baik pada kebijakan berbasis lahan berupa konversi kawasan alami adalah tidak dilakukannya kalkulasi nilai-nilai kawasan sebelum dilakukan konversi. Misalnya bagaimana perubahan kondisi ekosistem kemudian menghilangkan nilai-nilai jasa lingkungan terkait air dan sumber-sumber pangan tradisional. Suatu sore tahun 2004 di kawasan hutan rawa di Merauke, saya memancing ikan bersama masyarakat disela-sela waktu pemetaan partisipatif yang saya lakukan. Sebagai pemancing kelas pemula dalam 1/2 jam saya mendapat sekitar 5 ekor ikan/ 3 kg . Di Jakarta nilai ikan yang saya pancing mungkin sekitar 75 ribu rupiah. Saat ini kawasan itu sebagian berubah menjadi kawasan food estate dan sebagian ditanami sawit.

Jasa lingkungan dapat dibedakan atas jasa lingkungan penyedia jasa pangan, penyedia jasa air dan tentunya karbon dalam konteks. Nilai-nilai ini semestinya dikalkulasi dengan secara kuantitatif dan kemudian bisa dibandingkan dengan nilai yang didapat ketika lahan diubah menjadi kawasan food estate.

Mengukur Nilai Kekayaan Keanakaragaman Hayati/Biodiversity

Nilai biodiversity merupakan satu nilai yang paling tidak diperhitungkan dalam kajian awal wilayah yang akan digunakan sebagai kawasan food estate. Kawasan-kawasan gambut di Kalimantan dan hutan tropis lainnya serta kawasan hutan savanna di selatan Papua merupakan kawasan ekosistem unik dengan nilai biodiversity yang tinggi. Bayangkan bahwa wallaby di Indonesia hanya ditemukan di bagian selatan Papua yaitu di Merauke. Demikian juga dengan orangutan Kalimantan yang habitat nya berisisan dengan lokasi PLG di Kalimantan.

Hutan Kalimantan

Di luar aspek diatas, sebagai geograf saya mempertanyakan lokasi pilihan food estate di kawasan yang remote area. Apakah sudah dikalkulasikan biaya-biaya transportasi hasil-hasil pertanian pangan dan olahannya tersebut ke pasar, misalnya Jawa sebagai pasar terbesar?

Kebakaran Hutan di Papua


Pertama kali menginjakkan kaki di Papua tahun 2000 saya baru tahun ini mendengar begitu banyaknya penerbangan di Papua terhenti karena asap.

Tahun ini sebaran titik api di Papua sangat banyak, Hasil analisis September dan Oktober 201 5 ini menyebutkan ada 10096 fire alerts dengan  2755 titik api yang hampir pasti. Sebaran terbesar ada di Kabupaten Merauke dan Mappi.  Secara lebih detail dapat dilihat seperti berikut ini.

Sebaran hot spot dari FIRMS September Oktober 2015
Sebaran hot spot dari FIRMS September Oktober 2015

Sebaran titik api per kabupaten di Papua
Sebaran titik api per kabupaten di Papua

Secara detail sebaran per kabupaten dapat dilihat di tabel berikut:

Tabel sebaran titik api kabupaten Papua
Tabel sebaran titik api kabupaten Papua

Bicara tentang kebakaran, Merauke memang merupakanwilayah savana dan secara alami akan mengalami kebakaran sepanjang tahun. Tetapi wilaya seperti Mappi, Teluk Bintuni atau Sorong pada dasarnya bukan wilayah alami yang mengalami kebakaran.

Sebaran titik api dan konsesi di Papua
Sebaran titik api dan konsesi di Papua

Lalu apa yang menjadi pemicu semakin besarnya angka titik api di Papua? Faktor fenomena iklim el nino bisa menjadi satu alasan, tetapi el nino terbesar pada tahun1997 misalnya tidak menyebabkan kebakaran hebat di Papua seperti sekarang.

Expansi Perkebunan Sawit

Sejak saya di Papua saya tahu beberapa lokasi seperti Kabupaten Jayapura, Kabupaten Manokwari yang telah memiliki perkebunan sawit. Wilayah di Selatan Papua saat itu belum ada perkebunan sawit, ada banyak alasan mengapa selatan tidak ada sawit karena kondisi wilayah yang memang tidak sesuai untuk sawit di wilayah rawa dan mangrove.

Tetapi belakangan ini wilayah selatan seperti Mappi dan Timikan mulai dilirik untuk expansi sawit.

Entah ada kaitan atau tidak, yang pasti expansi pembukaan lahan untuk sawit sejalan dengan peningkatan titik api .

 

 

Perubahan Hutan dan Peran Besar Pengolahan Citra Satelit


“The resulting map, released in 2013, shows how Earth’s forests changed between 2000 and 2013. “It is the first global assessment of forest change in which you can see the human impact,” said Masek. And the message is: People have had a huge impact on forests.”

sumber:http://earthobservatory.nasa.gov/Features/LandsatBigData/

Masih ingat waktu data Kehutanan di Indonesia adalah data rahasia yang sangat sulit di akses? Jaman itu untuk mengetahui tutupan hutan dengan citra satelit diperlukan biaya yang besar untuk membeli citra satelit dan mengolahnya.

Saya melakukan kegiatan pengolahan citra Landsat 7 untuk kawasan hutan di Papua di tahun 2002 dan menjadi salah satu data yang dipakai untuk kegiatan konservasi. Untuk kegiatan ini diperlukan budget yang besar.

Saat ini dengan smartphone dan akses internet, data citra bisa dilihat melalui google atau melalu layanan peta digital online lainnya.Tidak perlu biaya besar dan proses yang rumit. Langkah penting selanjutnya adalah bagaimana memaksimalkan data yang ada untuk kegiatan konservasi atau kegiatan lain.

Tidak bisa lagi menyembunyikan fakta kerusakan hutan.

Pada saat ini data-data tutupan hutan sudah dapat diakses online, peran citra satelit menjadi sangat penting dimana citra seperti Landsat memberikan informasi ril mengenai kondisi suatu wilayah.

Kondisi ini kemudian yang memberikan fakta sebenarnya, tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Salah satu riset yang dapat dikatakan paling advance dalam analisis land cover adalah apa yang dilakukan University of Maryland yang bekerja sama dengan Google untuk melakukan kajian pada 700.000 citra Landsat dan menghasilkan data tutupan lahan terbesar di dunia. Dengan bantuan super computer dengan 100.000 CPU dan 1 juta jam analisis maka dihasilkan data tersebut. Bayangkan jika menggunakan PC biasa maka proses ini dilakukan dalam 15 tahun.

Hasilnya adalah menggambarkan perubahan tutupan lahan antara tahun 2000-2013. Dimana pada gambar berikut untuk wilayah Kalimantan,perubahan tutupan hutan pada skala besar diakibatkan oleh ekspansi perkebunan sawit.

Perubahan kawasan hutan di Kalimantan karena ekspansi sawit.
Perubahan kawasan hutan di Kalimantan karena ekspansi sawit.

Detailnya dapat dilihat di web berikut: http://earthenginepartners.appspot.com/google.com/science-2013-global-forest

Pada gambar yang lain misalnya dapat dilihat ada proses perubahan kawasan besar-besar di Timika yang kemungkinan besar adalah expansi sawit juga.

Gambar biru adalah kawasan HUtan yang baru dibuka tahun 2013.
Gambar biru adalah kawasan HUtan yang baru dibuka tahun 2013.

Data To Share: BPS data 2010 untuk Sarmi, Mimika, Asmat,Mamberamo Raya


Berbagi data mungkin masih merupakan kebiasaan yang tidak biasa.

Tapi untuk saya berbagi data adalah suatu yang seharusnya kita biasakan.

Sebagai pengguna GIS, satu sama lain harus bisa berbagi data dan pengetahuan.

Data Spatial BPS Sarmi 2010

Sarmi https://www.dropbox.com/s/cmklgtkp9ksrm7b/BPS_Sarmi.zip

Mimika https://www.dropbox.com/s/ykht988uq1ho40e/mimika.zip

Asmat https://www.dropbox.com/s/vj5b3dooth73h3q/asmat.zip

Mamberamo Raya https://www.dropbox.com/s/ptlvx8spdrdj4jh/mamberamoraya.zip

 

Data Peta Rupabumi Sarmi

Rupabumi Sarmi sheet1  https://www.dropbox.com/s/oycwyvoeqb9edev/3312_34.zip

Need more for Sarmi… please leave your request in comments tools

 

 

KABUPATEN ASMAT


I.KEADAAN SOSIAL

1.GEOGRAFIS

Kabupaten Asmat berada di bagian selatan Provinsi Papua dengan luas wilayah 23.746 kilometer persegi dan terletak antara 137o30’”- 139°90’’’ Bujur Timur dan 4°40’- 6°50’ Lintang Selatan. Kabupaten Asmat berbatasan di sebelah utara dengan Kabupaten Jayawijaya dan Yahokimo, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Mappi dan Laut Arafura, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Miimika dan Laut Arafura, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Mappi dan Kabupaten Boven Digoel. Letak yang demikian menempatkan Kabupaten Asmat pada posisi geografis yang sangat strategis karena berada di kawasan rim Pasifik Selatan (Australia dan New Zeland serta negara-negara sirkum Pasifik).

2.TOPOGRAFI

Umumnya berdataran rendah, kemiringan 0-8 persen, pesisir pantai berawa-rawa tergenang air, bagian utara dan timur agak tinggi. Ketinggian air pasang surut 5 – 7 meter,  air pasang laut masuk sampai  sejauh 50  – 60 kilometer dan  beberapa   tempat  terintrusi  air asin/air laut, serta memiliki ketinggian antara 0 – 100 meter di atas permukaan laut. Daerah bergelombang dan berbukit berada di wilayah Distrik Sawaerma sampai ke Distrik Suator. Pada daerah dataran rendah dan berawa dialiri oleh sungai-sungai besar seperti Sungai Weldeman, Siretz,  Aswetz, Lorentz dan Bets. Sungai-sungai tersebut memiliki peranan penting bagi kehidupan masyarakat sebagai sarana transportasi, sumber air irigasi, tenaga listrik, air minum serta memiliki potensi perikanan dan pariwisata yang besar.

3.IKLIM

Kabupaten Asmat ber iklim tropis dengan musim kemarau dan penghujan yang tegas. Curah hujan dalam setahun rata-rata 3.000 milimeter hingga 5.000 milimeter dengan hari hujan sekitar 200 hari setahun. Suhu udara rata – rata  pada siang hari 26ºC dan pada malam hari 17ºC. Curah hujan tertinggi terjadi di wilayah pedalaman, sedangkan curah hujan terendah terjadi di pesisir pantai selatan tepatnya di Pantai Kasuari. Tingkat kelembaban udara cukup tinggi karena dipengaruhi oleh iklim tropis basah, kelembaban rata-rata berkisar antara 78 persen hingga 81%. Suhu   udara  rata – rata disiang hari 26ºC hingga 29ºC dan   pada  malam  hari 17ºC – 20ºC.

4.KEPENDUDUKAN

Perbandingan antara luas wilayah dan jumlah  penduduk Kabupaten Asmat saat ini tidak proporsional. Berdasarkan data Asmat dalam Angka Tahun 2003 penduduk Kabupaten Asmat berjumlah 67.613 jiwa, atau mempunyai kepadatan penduduk 2,85 jiwa per kilometer persegi. Penyebaran dan kepadatan penduduk di Kabupaten Asmat tidak merata antara satu distrik dengan distrik lainnya. Distrik Pantai Kasuari adalah distrik dengan jumlah penduduk terbesar, yaitu sebanyak 14.825 jiwa, sedangkan distrik dengan jumlah penduduk terendah adalah Distrik Fayit dengan jumlah penduduk sebanyak 5.549 jiwa (Asmat Dalam Angka Tahun 2003).

Berdasarkan struktur umur, pada tahun 2003 jumlah usia produktif penduduk Kabupaten Asmat (usia 15 – 64 tahun) sebesar 39.615  jiwa, yaitu sekitar 58.59 persen dari total 67.613 jiwa dari jumlah penduduk Kabupaten Asmat. Namun potensi penduduk di usia produktif ini tidak didukung oleh kualitas pendidikan yang memadai yang berguna bagi produktivitas dan kinerja di segala bidang dan sektor pembangunan. Jumlah penduduk yang berada pada usia produktif sebagian besar berpendidikan sekolah dasar atau belum tamat sekolah dasar.

5.PENDIDIKAN

Pembangunan pendidikan belum menunjukkan kemajuan yang berarti ditandai dengan Angka Partisipasi Murni Sekolah Dasar (SD) sebesar 32.68 persen pada tahun 2003. Angka Partisipasi Murni Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebesar 15,98 persen pada Tahun 2003. Sedangkan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sebesar 1.78 persen  pada tahun 2003. Sedangkan kemajuan pembangunan prasarana pendidikan telah memberikan gambaran tentang kondisi kependidikan di Kabupaten Asmat yang semakin membaik, dimana pada tahun 2003 jumlah Sekolah Dasar dan SLTP yang merupakan pendidikan dasar sembilan tahun, yang telah dibangun  mencapai 105 SD dan 8 SLTP serta jumlah Sekolah Menengah Umum hanya 1 SMU.

Sementara jumlah murid ditingkat SD pada tahun 2003 berjumlah 7.955 murid dengan didukung jumlah tenaga pengajar sebanyak 352 Guru, sehingga rata-rata perbandingan murid dan guru sebesar 37 dan murid per sekolah 143. Untuk SLTP jumlah murid sebanyak 2.051 murid dengan didukung tenaga pengajar 71 guru, sehingga rasio antara murid dan guru di tingkat SLTP sebesar 37,5 dan rasio jumlah murid dan sekolah sebesar 420.

Sedangkan  untuk  tingkat SLTA jumlah murid sebanyak 218 dan jumlah guru sebanyak 16, sehingga rasio antara murid dan guru sebesar 14 dan perbandingan antara murid dan sekolah sebesar 218. Angka rasio antara murid dan guru, murid dan sekolah menunjukkan angka perbandingan yang cukup besar, sehingga terlihat kekurangan pelayanan pendidikan khususnya dalam jumlah guru dan sekolah.

 

6.KESEHATAN

Perkembangan pelayanan kesehatan di Kabupaten Asmat yang ditunjukkan dengan jumlah prasarana pelayanan di bidang kesehatan kurang menunjukkan peningkatan yang berarti. Sampai dengan tahun 2003 Kabupaten Asmat belum memiliki Rumah Sakit, hanya memiliki Puskemas Perawatan sebanyak 5 buah dan Puskesmas Pembantu sebanyak 21 buah dan jumlah Polides sebanyak 15 buah kemudian pelayanan kesehatan di daerah – daerah perairan sungai ditunjang dengan sarana Puskesmas Keliling.

Tenaga medis untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sampai dengan tahun 2003 berjumlah 6 orang tenaga dokter umum. Sedangkan jumlah paramedis sebanyak 95 bidan dan 129 perawat. Jumlah paramedis masih berada dibawah rata-rata tingkat kebutuhan masyarakat. Sampai tahun 2003, sebagian besar masyarakat masih menderita penyakit malaria, diare, kulit, asma, saluran pernapasan dan cacar air.

Dengan rincian jumlah penderita  untuk penyakit malaria sebanyak 15.309 orang, penyakit diare sebanyak 8.026 orang, penyakit kulit sebanyak 6.260 orang, penyakit asma 3.013 orang,  penyakit saluran pernapasan 8.209 orang dan penyakit cacar air 271 orang. Di bidang Keluarga Berencana, banyaknya akseptor aktif pada akhir tahun 2003 mencapai 1.940 pasangan, sedangkan akseptor baru berjumlah 201 pasangan. Sampai dengan saat ini kondisi pelayanan kesehatan di Kabupaten Asmat masih belum memadai karena keterbatasan jumlah tenaga medis dan para medis serta prasarana dan sarana pendukung pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.

Pembangunan kesejahteraan sosial telah menunjukan hasil-hasil positif berupa pembinaan masyarakat terasing/komunitas adat terpencil, utamanya di daerah pedalaman dan terpencil dan tertanganinya rehabilitasi korban bencana alam. Namun tingkat pelayanan yang diberikan oleh pemerintah masih sangat terbatas karena kesulitan di dalam berbagai hal, antara lain : jangkauan wilayah pelayanan yang terlalu luas, terbatasnya prasarana pendukung, dan terbatasnya biaya operasional.

7.POTENSI WILAYAH

Kabupaten Asmat merupakan kabupaten yang  memiliki SDA yang besar dan beraneka ragam baik yang terdapat di darat, laut. Mengingat potensi SDA sebagai salah satu modal dalam pembangunan maka pemanfaatannya dan pengelolaannya hendaknya dilakukan secara optimal, arif, dan memperhatikan keseimbangan ekologi.

7.1.Sumberdaya Hutan.

Sumber daya hutan termasuk potensial bagi pembangunan perekonomian daerah. Potensi sumberdaya hutan di Kabupaten Asmat adalah 2.785.600 Ha. Kabupaten Asmat juga memiliki hutan dengan fungsi sebagai hutan lindung, hutan wisata, hutan pelestarian alam (Taman  Nasional Lorentz), dan hutan produksi (hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas, produksi yang dikonversi).,

           Sumber daya hutan termasuk potensial bagi pembangunan perekonomian daerah. Sumberdaya hutan merupakan sumberdaya terbesar yaitu hutan lindung 149.400 ha, hutan PPA 4866.200, hutan produksi 1.464.000 dan hutan produksi yang dapat dikonversi 686.000 ha. Di samping itu, Kabupaten Asmat juga memiliki tipe hutan yang sangat khas dan sangat lengkap antara lain hutan payau, pantai, rawa/gambut, hujan tropis tanah kering dan basah, hutan musim, hutan sagu, nipa, fungsi dan tipe hutan tersebut memiliki komoditi yaitu kayu dan non kayu, satwa liar dan berbagai ragam biota yang ada didalamnya. Apabila dilihat dari aspek jasa hutan, maka merupakan sarana pendukung lingkungan hidup yang sangat penting dan utama.

      Sumberdaya Air

Sumberdaya air merupakan kebutuhan dasar semua mahluk hidup. Mengingat arti pentingnya sumberdaya air maka sumberdaya ini sangat perlu dilestarikan, baik air permukaan maupun air tanah. Sumberdaya air untuk kebutuhan air irigasi dan air bersih  di Kabupaten Asmat sangat terbatas. Hal ini sangat dirasakan oleh masyarakat terutama pada musim kemarau panjang. Dimasa mendatang sungai Wedelman dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi.

7.3.  Sumberdaya Pesisir dan Kelautan

Kabupaten Asmat memiliki potensi perairan yang sangat besar seperti perikanan, mangrove, tambang minyak lepas pantai yang belum dieksploitasi.Pembangunan wilayah pesisir dan lautan Kabupaten Asmat merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan sumberdaya yang lain baik yang terdapat di darat maupun di laut dan tetap menjaga kelestariannya. Pengelolaan wilayah pesisir dan lautan dilaksanakan secara kontinyu dan dinamis dengan memperhatikan aspek sosial budaya, ekonomi, konservasi, kelembagaan formal maupun informal yang ada pada masyarakat. Kondisi potensi sumberdaya alam pesisir dan lautan Kabupaten Asmat cukup bervariasi, baik yang masih dalam keadaan baik maupun yang sudah terdegradasi serta adanya konflik kepentingan dalam pengelolaan wilayah pesisir dan lautan. Terjadi pengrusakan lingkungan laut akibat eksploitasi hasil laut secara ilegal.

II. KEADAAN EKONOMI

2.1.  Kondisi Perekonomian

Kondisi umum pembangunan ekonomi di Kabupaten Asmat memperlihatkan suatu  kecenderungan kearah kemajuan yang terlihat dari pertumbuhan peningkatan perekonomian kerakyatan dari waktu ke waktu dan dapat diindikasikan oleh empat aspek yakni perkembangan PDRB, sektor keuangan daerah, sektor perbankan, dan perkembangan harga-harga.

      Perkembangan PDRB

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Asmat pada  tahun 2003 mencapai 1,95%. Secara umum sektor-sektor ekonomi mengalami kenaikan laju pertumbuhan kecuali sektor pertanian, yang mengalami laju pertumbuhan sebesar negatif 0,10%.

Sektor-sektor yang mengalami pertumbuhan paling tinggi pada tahun 2003  adalah sektor angkutan dan komunikasi dengan angka pertumbuhan tercatat 24,23%, peringkat lainnya adalah sektor listrik dan air bersih mencapai 16,46%, sedangkan sektor perdagangan, hotel dan restoran berada pada posisi ketiga dengan angka pertumbuhan sebesar 8,95%.

Pada tahun 2003 kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB mencapai 67,53% dan pada tahun 1999 sebesar 72,96%. Posisi kedua adalah sektor jasa-jasa yang pada tahun 2003 kontribusinya tercatat 15,27%, sedangkan pada tahun 1999 tercatat 14,40%. Besarnya kontribusi pada sektor-sektor jasa berasal dari sub sektor jasa pemerintahan umum, bukan berasal dari subsektor jasa-jasa lainnya. Peringkat ketiga ditempati oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan peranan pada tahun 1999 sebesar 3,68% dan tahun 2003 meningkat menjadi 6,10%

      Perdagangan, Dunia Usaha, dan Investasi

Kegiatan perdagangan di Kabupaten Asmat telah berkembang pesat sejalan dengan semakin tumbuhnya kegiatan perusahaan seperti kehutanan, perikanan, perindustrian. Pembangunan industri masih didominasi oleh industri rumah tangga, kerajinan ukiran Asmat dan industri. Belum berkembangnya sektor industri sebagai akibat belum adanya pusat-pusat pendidikan dan pelatihan, demikian pula dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Daerah. Pembangunan koperasi belum berkembang seperti yang diharapkan. Hal ini disebabkan antara lain karena pembinaan yang dilakukan belum disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masyarakat di daerah, lemahnya kemampuan manajemen dan permodalan serta masih terbatasnya ketersediaan prasarana dan sarana koperasi terutama di perdesaan.Pembangunan perdagangan masih didominasi oleh perdagangan dalam negeri yang terkonsentrasi di perkotaan dan masih didominasi oleh kelompok masyarakat pendatang yang jauh lebih siap dan maju. Belum berkembangnya pembangunan perdagangan antara lain karena belum memadainya prasarana dan sarana perdagangan seperti jalan, alat angkutan, pasar, pembinaan manajemen dan kelembagaan. Untuk perdagangan luar negeri masih didominasi produksi hasil kehutanan dan perikanan.Pembangunan dunia usaha belum berkembang baik, hal ini disebabkan karena kemampuan masyarakat dalam dunia usaha masih terbatas dan masih kurangnya pembinaan manajemen dan permodalan serta terbatasnya prasarana dan sarana demikian pula dengan peluang dan kesempatan yang terbatas.Perkembangan kelembagaan keuangan masih didominasi oleh lembaga keuangan pemerintah dan swasta, sedangkan lembaga keuangan masyarakat masih sangat terbatas, untuk Kabupaten Asmat masih hanya dua Bank yakni Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Rakyat Indonesia, kedua Bank tersebut masih bersifat perwakilan, kondisi ini sangat memprihatinkan sirkulasi peredaran uang di  wilayah distrik dan desa. Selain itu karena masih terbatasnya ketersediaan tenaga kerja yang siap pakai, dan masih rendahnya frekuensi promosi potensi Kabupaten Asmat baik antar wilayah distrik antar daerah, antar wilayah didalam negeri dan keluar negeri. Demikian pula belum optimalnya kerjasama sub-regional dan regional yang melibatkan dunia usaha.

2..4. Kondisi Sarana dan Prasarana

Prasarana dan sarana memegang peranan dalam mendukung pengembangan wilayah, seperti perhubungan, air bersih, listrik dan sebagainya. Prasarana dan sarana yang dibangun masih dirasakan belum dapat memenuhi kebutuhan minimum masyarakat, terutama yang ada pada daerah terpencil, pedalaman. Dilakukan penyedian prasarana dan sarana baik perkotaan maupun pada daerah pedalaman terpencil. Untuk prasarana dan sarana transportasi diprioritaskan mendukung pengembangan antar wilayah, antar distrik dengan model transportasi terpadu yang dapat melayani permintaan kebutuhan pelayanan.

Pembangunan jalan desa untuk menghubungkan antar desa, antar desa dengan distrik, jaringan jalan lokal dan jaringan jalan utama yang ada, akan diupayakan untuk pengembangan jenis transportasi yang sesuai karakteristik dan kondisi topografi serta ketersediaan material pembangunan jalan di masing-masing distrik, misalnya kereta api. Pembangunan transportasi selama ini masih diutamakan untuk lebih mendorong munculnya akivitas ekonomi dan meningkatnya pelayanan sosial masyarakat terutama pada daerah pedalaman, terpencil, sehingga kedepan dalam mendukung pengembangan wilayah sejalan dengan pelaksanan otonomi.

Pembangunan jaringan baru diarahkan untuk mendukung pengembangan wilayah, perlu juga peningkatan struktur serta kapasitas jalan yang sudah ada sesuai dengan pertumbuhan frekwensi pergerakan lalu lintas yang terjadi. Langkah lain yang akan dilakukan ke depan adalah menserasikan hubungan antar jaringan lokal dengan jaringan jalan utama sehingga tercipta suatu sistem jaringan yang berdaya guna.Transportasi laut melalui penyediaan prasarana dan sarana untuk meningkatkan pelayanan yaitu pembangunan dermaga dan fasilitas pendukung,  peningkatan frekuensi pelayanan antar distrik dan keluar daerah Kabupaten Asmat  dengan kapal cepat, peningkatan pelayanan angkutan perintis. Prioritas pembangunan dermaga yaitu dermaga Agats sehingga dapat melayani pelayaran internasional melalui laut dalam menghadapi pasar bebas. Hasil pembangunan transportasi laut sampai dengan akhir tahun 2003 masih dirasakan  kurang memberikan manfaat pelayanan minimal bagi upaya mendukung peningkatan pendapatan masyarakat lokal, terutama bagi masyarakat yang ada di daerah terpencil, pesisir pantai karena luasnya wilayah pelayanan dan sarana yang sangat terbatas. Hal ini disebabkan pendekatan pembangunan transportasi laut dilakukan dalam skala kecil dan sporadis, dan lambatnya pertumbuhan ekonomi pada berbagai tingkatan yang akan menjadi pendorong pertumbuhan hubungan sektor laut.

Pengembangan transportasi udara dilakukan peningkatan bandara Ewer-Agats, dengan kapasitas jenis pesawat Twin Otter sedangkan penerbangan Perintis, kondisi pesawat pada umumnya sudah tua dan kondisi medan yang sangat berat serta keadaan cuaca yang selalu berubah-ubah menyebabkan sering tertundanya penerbangan. Jangkauan pelayanan pos, telekomunikasi dan informasi, belum mencapai seluruh wilayah kecamatan dan pusat pemukiman, disebabkan luasnya pelayanan dan terbatasnya prasarana dan sarana, sedangkan pembangunan meteorologi dan geofisika masih kurang memberikan informasi bagi keselamatan transportasi dan pengembangan kegiatan produksi, disebabkan terbatasnya prasarana dan sarana.

Peraturan Kehutanan Papua: Kenapa Berubah


Belum lagi selesai denganSK no 458 Kemenhut kembali mengeluarkan SK terbaru yaitu SK no  782 yang dikeluarkan bulan Desember 2012.

Berikut adalah link untuk SK tersebut.

SK.782_.MENHUT-II_.2012_.PROV_.PAPUA_1

Lampirannya SK berupa peta:

Lampiran_SK.782_MENHUT-II_2012_

Geography Economy: Pengembangan VCO di Papua


Indonesia merupakan satu negara dengan garis pantai terpanjang. Sebagai  kepulauan Indonesia mempunyai panjang garis pantai 95.181 km, dihitung dari 17.480 pulau yang ada di Indonesia AS, Kanada dan Rusia masing-masing menduduki posisi 1 sampai 3.

Peta Indonesia
Peta Indonesia

Kawasan pantai merupakan kawasan yang sangat rentan dari akibat perubahan iklim, dimana kenaikan permukaan air laut akibat melelehnya es karena perubahan iklim akan langsung mengenai wilayah pantai. Kawasan ini juga rentan karena aktifitas manusia cenderung menempati wilayah pantai dengan membuka tutupan vegetasi yang ada di atasnya. Lebih sering kawasan hutan ini.

Dengan posisi  Indonesia yang berada di wilayah tropis maka sepanjang pantai itu juga terdapat tanamana-tanaman produksi yang sangat berpotensi yaitu salah satunya tanaman kelapa.

Pantai di Sarmi
Pantai di Sarmi

Pada wilayah-wilayah pantai tersebut potensi pengembangan kelapa sangat besar, kelapan-kelapa ini bisa diolah menjadi banyak produk. Salah satu produk yang punya nilai tinggi adalag VCO atau virgin coconut oil.

IFACS membantu Yayasan IPI dalam memberikan pendampingan pembuatan VCO di Sarmi, Yayasan ini bekerja di desa Yamna, Betaf dan Beneraf. Kegiatan ini sebelumnya pernah juga mendapat dukungan dari UNDP. IFACS memberikan grant ke Yayasan IPI untuk membantu masyarakat dalam melakukan kegiatan di 3 desa tersebut dan membantu masyarakat dalam memproduksi sampai pemasaran VCO.

Kunjungan ke grantee di Betaf
Kunjungan ke grantee di Betaf

produksi VCO Sarmi_1

 

Hasil produksi VCO di 3 kampung ini sangat bagus, masyarakat bisa memproduksi sekitar 10-30 liter perhari.

Dalam rangka  aspek perubahan iklim juga dilakukan rehabilitasi tanaman dengan kegiatan penanaman pohon.

Zonasi
Zonasi

SK Menhut no 458 mengenai Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Papua


Saya ingin men-share dokumen mengenai Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Papua

Berikut adalah SK-nya

– Klik untuk download: SK Menhut 458

Sebagai lampiran terdapat 33 peta sekala 1:250.000

Link berikut adalah peta tersebut:

Lembar 3413

Format pdf peta bisa di download di halaman berikut:

3413

– 3412

– 3411

– 3410

– 3409

– 3408

– 3407

– 3406

– 3314

– 3313

– 3312

– 3311

– 3310

– 3309

– 3308

– 3307

– 3207

– 3208

– 3210

– 3211

– 3212

– 3213

– 3011

– 3012

3013

– 3014

– 3015

– 3111

– 3112

– 3113

– 3114

– 3115

– 3214

Photography: Flight to Sarmi


Traveling with a small plane was thrilling as well as fun. Like when flight to Sarmi with a small plane. The town is taken 50 minutes by plane is located in the western city of Jayapura.

From the seats we could see clearly the aircraft cockpit.

GPS in the plane showing the location of the flight from Jayapura to Sarmi.

At take off time, we can see the reflected image plane on the mainland.

shadow of my plane

Sentani airport famous wit stunning view of Sentani lake at landing and take off time.

Lake Sentani view

lake view terrace

The view from the plane is very beautiful, we could see the sea on the north and see the land in the south.

islands with white sandy coast

the river and lowland forest

Enjoy the photos