Belajar Dari Forest Asia Summit 2014


Mengikuti kegiatan Forest Asia Summit 2014 membuat saya belajar pada isu-isu forest dari berbagai negara. Salah satu aspek yang menjadi tema adalah sustainable landscape yang ternyata memiliki horizon yang sangat luas dan kemudian membuat banyak sekali masukkan mengenai pendekatan pada landscape yang perlu menjadi pertimbangan dalam pengelolaan hutan.

Beyond Carbon

Isu forest, climate change sangat dekat untuk kawasan Asia, dimana 24 % dari emisi di Asia berasal dari alih fungsi kawasan hutan menjadi kawasan non hutan. Beberapa aspek yang dibahas dikaitkan dengan aspek food security, disaster dan livelihood dan juga energy. Pembicaraan mengenai mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang dikaitkan dengan hutan memang harus dibahas lebih banyak dibandingkan hanya dengan memfokuskan pada isu carbon. Beberapa alasan seperti skema insentif yang belum jelas, kemudian skema adaptasi dan mitigasi yang belum dipikirkan matang menjadi alasan mengapa pembicaraan ini seharusnya dibahas lebih dari pembahasan emisi karbon.

Masyarakat di Asia, misalnya di Indonesia masih banyak menggantungkan hidup pada hutan sebagai penyedia berbagai kebutuhan. Hilangnya hutan karena kegiatan ektraksi dan alih fungsi lahan dalam beberapa studi tidak berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan. Bahkan pada sekala waktu yang panjang akan menyebabkan kemiskinan. Apalagi jika kemudian aspek kemiskinan dikaitkan dengan indeks pembangunan manusia dimana kemudian masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada keberadaan hutan, pada sumberdaya air, dll.

Sustainable Landscape dan Tata Ruang

Sayangnya saya tidak menemukan materi yang mengkaitkan sustainable landscape ini dengan Tata Ruang dalam pembahasan yang lebih detail. Padahal rona hutan kemudian ditentukan oleh penataan ruang yang menentukan kawasan sebagai go or no go untuk alih fungsi lahan di Indonesia dan mungkin dibanyak negara lain.  Ada beberapa penyampaian mengenai forest moratorium dan beberapa kebijakan berbasis spatial yang kemudian menyumbang pada pencegahan alih fungsi hutan ke land use lain tanpa pertimbangan yang berkelanjutan.

Bagaimana kawasan pengelolaan ruang di Indonesia dilihat berikut:

penentuan pola ruang

 

 

Kebijakan dalam alokasi hutan akan menentukan apakah kemudian akan berkontribusi pada perubahan kawasan hutan. Dengan struktur seperti ini maka akan lebih bijak jika kemudian dibuat sebuah prioritas pengelolaan kawasan yang memperhatikan keseluruhan aspek, lengkap dengan pilihan kebijakan yang akan menjadi pilihan mitigasi dan adaptasi. Pilihan ini akan langsung berkontribusi pada target penurunan emisi, target penyelamatan biodiversity dan target peningkatan kesejahteraan (yang bukan melulu dihitung dari GDP).

Pada session yang ada di dalam Forest Summit, kemudian beberapa inisiatif insentif, dll didasarkan pada sebuah strategi yang matang pada tingkat yang lebih tinggi.

 

About Musnanda

GIS Specialist, Regional Planner and Knowledge Manager
This entry was posted in Forestry, Kehutanan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s