Perencanaan Kota: Untuk Kapan?


Dalam perjalanan ke Boven Digoel saya duduk di pinggir dan punya kesempatan melihat struktur Kota Tanah Merah dari atas, struktur kota dibuat memanjang dan memisahkan antara kota lama dengan kota baru yang sudah dirancang.

Memasuki kota Tanah Merah yang saya lakukan pertama kali adalah keliling kota dan melihat pembangunan baru di beberapa lokasi. Bukan dalam kapasitas inspektur atau apapun, tapi hanya ingin memuaskan keingin tahuan saya sebagai planner. Ternyata jarak antara lokasi pemerintahan yang baru dengan yang lama cukup jauh, bukan hanya jauh tetapi lebih kemasalah aksesibilitas dimana lokasi tesebut tidak terlayani kendaraan umum dan kondisi jalan belum aspal sampai ke lokasi.

Dulunya saya pernah melihat rancangan lokasi tersebut dan cukup terkagum karena lokasi dirancang menggunakan IKONOS oleh satu konsultan. Meskipun hasilnya buat saya cukup mengagetkan karena seolah-olah lokasi ini dibangun untuk kurun waktu 10 tahun atau 15 tahu kedepan.

Dalam banyak pengamatan saya, lokasi-lokasi beberapa kabupaten baru di Papua misalnya dibangun lokasi-lokasi dengan rancangan untuk 1o tahun kedepan. Memisahkan lokasi antar kantor dengan jarak yang jauh memang bagus untuk antisipasi ke masa depan. Permasalahannya adalah, apakah faktor aksesibilitas sudah diperhitungkan.

Ini cerita teman-teman lapangan, bayangkan untuk menjangkau lokasi tersebut dari kantor satu dengan yang lain butuh waktu yang cukup lama. Padahal sudah menggunakan kendaraan sepeda motor. Bayangkan jika masyarakat yang memerlukan pelayanan, apakah bisa menjangkau wilayah tersebut.

Penataan Ruang Wilayah Pedalaman


Penataan ruang sangat diperlukan setiap wilayah. Dalam konteks kali ini akan dijabarkan beberapa permasalahan mendasar mengenai kekurangan-kekurangan dalam kegiatan penataa ruang di wilayah pedalaman.
Remote Area in Tiom, Papua, Indonesia 
Remote Area in Tiom, Papua, Indonesia

Keterpencilan, Aksesibilitas dan Dampaknya.

Salah satu hal masalah terbesar dalam penataan ruang di wilayah pedalaman adalah keterpencilan, dampaknya sangat besar. Aksesibilitas yang rendah ke wilayah pedalaman menyebabkan tertutupnya akses ke pasar bagi produk-produk di wilayah pedalaman, disisi lain juga menyebabkan sulitnya pasokan kebutuhan dari luar. Pada banyak wilayah pedalaman, harga barang-barang yang didatangkan dari luar menyebabkan tingginya harga, melemahkan daya beli masyarakat. Dari sisi lain, keterpencilan menjadikan pelayanan ke masyarakat menjadi sulit. Baik itu yang menyangkut pelayanan pendidikan, kesehatan serta pelayanan lain yang tujuannya untuk masyarakat.

Perencanaan Berbasis Lokal

Pada kondisi ini perencanaan harus disusun berdasarkan kondisi wilayahnya secara lebih  detail. Mulai dari kondisi fisik wilayahnya, kondisi biologi, masyarakat dan budayanya, infratruktur dasar dan aspek-aspek lain. Salah satu aspek yang terpenting adalah pendekatan yang dilakukan harus menggunakan pendekatan partisipatif yang lebih menekankan pada pengikut sertaan masyarakat secara langsung. Mengapa perencanaan berbasis lokal sangat penting, karena nilai-nilai yang ada serta aspek-aspek sosial dan  budaya memiliki perbedaan dengan kelas-kelas atau kategori yang digunakan dalam perencanaan formal yang mengacu pada sekian banyak peraturan, mulai dari UU 26/2007  sampai pada KepmenKimpraswil.

Contoh mudahnya, dalam UU penataan ruang misalnya membagi kawasan berdasarkan kawasan lindung dan kawasan budidaya. Maka wilayah seperti ini kawasan lindung dan kawasan budidaya bercampur. Sistem masyarakat yang masih tergantung pada alam, menuntut kondisi budidaya harus tetap lestari sehingga sumberdaya alam bisa terus diambil tanpa merusak sedikitpun.

Geography Awareness Week


Minggu ketiga November di Amerika sana menjadi minggu “peduli geografi” (geography awareness). Coba aja cek ke : http://www.mywonderfulworld.org/gaw.html. Kegiatan yang sudah  dilakukan sejak tahun 1987 ini jadi agenda rutin untuk upaya-upaya membuat masyarakat Amerika semakin melek geografi. Berawal dari kekawatiran bahwa generasi muda Amerika semakin lupa mempelajari mengenai Geografi.

Nah konteks Amerika ini mungkin menarik kalau dilihat dari perspektif Indonesia. Bahwa semakin banyak orang Indonesia yang tidak lagi peduli akan Geografi, sangat mengkawatirkan. Jajaran pulau2 Nusantara dari Sabang sampai Merauke memerlukan ilmu geografi untuk mampu memahami secara detail. Fenomena alam yang beragam mulai dari bentang alam yang terbentang mulai dari lautan yang kaya sampai pegunungan salju yang kaya (wah masih ada saljunya atau dah jadi pit hole yach?), vulkanik (dengan jajaran pegunungan mulai dari Barat sampai Timur), iklim (musim hujan sampai musim panas), biodiversitas (yang luar biasa) dll.

Kekayaan akan keanekaragaman fakta Geografi di Indonesia sangat mengagumkan, sayangnya informasi ini masih sangat terbatas, juga dalam banyak hal terabaikan. Informasi terbatas dapat dilihat bahwa pengetahuan Geografi yang diberikan sebatas pada lokasi, pada peta semata, belum menguraikan secara jelas keterkaitan manusia, budaya, ekonomi, dll dengan aspek ruang diatasnya.

Spatial Awareness


Yang sudah nonton Laskar Pelangi, pasti penasaran atau paling tidak sedikit penasaran dimana Belitung?

Saya masih ingat juga peta “lokasi Hobbit” ketika lagi demam Lord of The Ring.

Ternyata pengaruh pop culture seperti film mampu membangkitkan spatial awareness sebagian orang.

Meskipun sebatas mengenai lokasi tapi cukup membangkitkan beberapa hal yang secara spatial menarik buat dibahas. Misalnya pada film dan novel laskar pelangi membangkitkan ingatan Belitung sebagai pulau penghasil timah. Pada sisi yang lebih jauh  membuat gambaran geografi sosial yang menggambarkan bahwa wilayah tambang dengan SDA yang berlimpah belum tentu menghasilkan kemakmuran bagi wilayah itu. Mungkin cerita yang sama berlaku untuk banyak wilayah yang berlimpah sumberdaya alam lainnya di Indonesia.

Sebuah produk budaya ternyata mampu membuat sebagian orang percaya bahwa pengetahuan Geografi bukan hanya sebatas lokasi tapi interaksi lokasi, manusia dan fisik wilayahnya termasuk SDA.

Geografi dan Mudik


Sebuah perjalanan pastinya akan melewati ruang dari satu lokasi ke lokasi lain. Pastinya tidak akan jauh dari persoalan menyangkut geografi.

Bukan sebatas peta

Yang terpikir dari bahasa geografi mengenai kegiatan mudik tidak hanya selembar peta yang menuntun pemudik melewati satu rute. Peta memang menjadi entry point menarik buat geograf dalam melihat fenomena ini. Bagaimana melihat ketersediaan jalur, persebaran fasilitas (misalnya pompa bensin atau rest area). Banyak peta jalur mudik yang setiap tahunnya dicetak, menyediakan data dasar terkait ruang.

Padahal dalam banyak aspek mudik merupakan fenomena geografi yang mampu menjelaskan banyak hal secara ruang.

Analisis spatial

Bagaimanapun fenomena mudik mampu menjelaskan beberapa perpindahan dari urban ke rural. Mudik merupakan eksodus budaya yang paling nyata dari wilayah perkotaan ke wilayah pedesaan. Dimana di pemudik membawa banyak hal mulai dari aliran dana, aliran kebudayaa,dll.

Sebuah analisis yang detail akan mampu menjelaskan perpindahan-perpindahan-perpindahan tersebut dalam sekala ruang.