Mengukur Ketahanan Masyarakat akan Resiko Bencana


Bencana alam khususnya yang diakibatkan oleh fenomena alam seperti iklim dan cuaca merupakan hal yang terjadi di Indonesia. Bencana alam pada dasarnya sulit untuk di prediksi kapan terjadi, meskipun gejala-gejala dan penyebabnya dapat dikaji secara ilmiah. Resiko bencana pada dasarnya dapat dikurangi dengan cara menguatkan masyarakat atas bencana. Seperti diketahui bahwa bencana alam hanya akan menimpa masyarakat dengan ketahanan yang rendah sedangkan masyarakat yang ketahanan terhadap bencana besar akan  sedikit atau tidak sama sekali terkena resiko bencana.

Ketahanan masyarakat terhadap bencana sebenarnya bisa diukur dengan  2 pendekatan:

  1. Pendekatan dari atas
  2. Pendekatan dari bawah

Pendekatan dari atas

Dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan seperti pendekatan ilmiah dari para ahli. Pendekatan ini menggunakan kajian-kajian ilmiah seperti kajian iklim dan cuaca, kajian keruangan seperti penggunaan tanah, kondisi topografi, jenis tanah, geologi, dll. Kajian ilmiah mampu menganalisis kondisi iklim, cuaca, fisik wilayah dan pola interaksi manusia dengan alam dan menghasilkan prediksi bencana dan modelling akibat dari bencana. Hasil analisis ini dapat menjadi masukkan dalam rencana-rencana pembangunan baik fisik infrastruktur maupun pembangunan ekonomi lainnya. Sosialiasi dari pendekatan ini diberikan kepada masyarakat dengan suatu program awareness sehingga masyarakat mampu menyesuaikan pola hidup dan interaksinya terhadap alam.

 Pendekatan dari bawah

Dilakukan dengan menggali kearifan-kearifan lokal yang telah turun temurun beradaptasi dengan kondisi lingkungannya. Menggunakan metode-metode partisipatif kearifan lokal dapat digali dalam rangka merangkum pengetahuan mengenai masyarakat bertahan dengan kondisi lingkungan baik fisik wilayah, iklim maupun terkait mata pencahariannya. Metode ini mampu merangkum pengetahuan tradisional yang sudah ratusan tahun diterapkan oleh masyarakat dan kemungkinan bisa direplikasi di wilayah lain dengan kondisi fisik yang sama.

Fakta menyebutkan bahwa masyarakat yang rentan pada bencana adalah masyarakat yang miskin, kemudian juga kelompok-kelompok tertentu seperti perempuan, manula dan anak-anak. Pada kejadian bencana, kelompok masyarakat miskin, serta perempuan, manula dan orang tua merupakan kelompok yang paling besar menerima resiko dari bencana. Karena itu maka usaha-usaha mengurangi resiko bencana dapat dilakukan dengan penguatan kelompok-kelompok rentan akan bencana. Penguatan masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan tingkat kerentanan yang ada.

Mengukur kerentanan masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah terkait dengan kerentanan pada masyarakat miskin. Indikator-indikator MDGs misalnya dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan dan tentunya angka indeks pembangunan manusia dapat menjadi alat ukur kerentanan. Analisis lainnya bisa terkait dengan analisis gender dimana seperti diketahui bahwa kaum wanita memiliki tingkat kerentanan yang lebih rendah dalam bencana.

Peran Geograf dalam DRR


DISASTER RISK REDUCTION (DRR)

There is no such thing as a ‘natural’ disaster, only natural hazards.

DRR bertujuan untuk mengurangi kerusakan akibat bencana alam seperti gempa, banjir, badai melalui suatu etos pencegahan. Disaster risk reduction adalah konsep dan praktek untuk mengurangi bencana usaha yang tersistematis memlalui analisis dan pengurangan faktor-faktor penyebab dari bencana. Mengurangi resiko terkena bencana, mengurangi kerentanan dari masyarakat dan propertinya, manajemen yang bijak dari lahan dan lingkungan , dan meningkatkan kesiapan akan kejadian, semuanya merupakan contoh-contoh dari penanggulangan resiko bencana.

Pengurangan Resiko Bencana adalah masalah Pilihan 

Bencana yang terjadi sesudah kejadian bencana alam. Kadar dari bencana sangat tergantung pada dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan. Skala dari dampak tergantung pada pilihan pola hidup dan lingkungan. Pilihannya pada bagaimana proses pertanian pangan dilakukan, bagaimana membangun rumah , kebijakan pemerintah yang ada, bagaimana sistem pemerintahan dan bahkan bagaimana ini dilakukan di bidang pendidikan di sekolah. Setiap keputusan dan kebijakan yang diambil akan membuat kita lebih rentan pada bencana atau lebih tahan terhadap bencana.

Pengurangan Resiko Bencana adalah Tanggung Jawab Setiap Orang.

Disaster risk reduction termasuk  disaster management, disaster mitigation dan disaster preparedness, harus menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan. Harus dipastikan bahwa aktifitas pembangunan juga harus dibarengi dengan pengurangan resiko pengurangan bencana. Disisi lain bahwa pembangunan akan meningkatkan resiko bencana dan kerugian akibat bencana. Pada akhirnya DRR melibatkan semua unsur dari masyarakat, setiap bagian dari pemerintah , dan setiap  professional dan sektor swasta.

“The more governments, UN agencies, organizations, businesses and civil society understand risk and vulnerability, the better equipped they will be to mitigate disasters when they strike and save more lives”

— Ban Ki-moon, United Nations Secretary-General
sources:

Peran Geograf dalam Penanggulangan Resiko Bencana

Aspek Geografi dalam penanggulangan resiko bencana sangatlah besar dimana penangulangan resiko bencana terkait dengan kemampuan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data spatial mulai dari iklim, morfologi, kependudukan, dll dalam kerangka keruangan. Pengalaman Bencana besar di Aceh akibat tsunami dan gempa bumi mengajarkan banyak pihak bahwa data spatial sangat dibutuhkan dalam penangulangan bencana.  Pengalaman di Merapi membuktikan bahwa dengan data spatial geologi, vulkanologi, lokasi sebaran penduduk, aliran sungai dan analisis spatial berupa perkiraan dampak letusan mampu digunakan untuk mengurangi resiko bencana.

Peran geograf sangatlah penting dalam rangka memberikan masukan dalam pengambilan keputusan dalam manajemen bencana, mitigasi bencana dan kesiapan menghadapi bencana. Tersedianya data spatial  kemudian bisa dianalisis secara keruangan dengan menggunakan tools seperti GIS dan remote sensing akan mampu memberikan arahan dalam pengambilan keputusan dalam penanggulangan bencana.

Berdasarkan Hyogo Framework disebutkan bahwa aspek yang terpenting salah satunya adalah memasukkan aspek penanggulangan resiko bencana dalam perencanaan pembangunan. Dalam kaitan perencanaan pembangunan yang mengikut sertakan aspek pengurangan resiko bencana maka data-data spatial meliputi iklim, hidrologi, geologi, morfologi wilayah, dll harus ditampilkan secara spatial. Geograf harus mampu berperan untuk menampilkan dan menganalisis data-data tersebut dalam rangka membuat keputusan dalam perencanaan wilayah yang mengedepankan aspek pengurangan resiko bencana.