2013 in review


The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 9,800 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 4 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Jangan Lupakan Ilmu Geografi dan Ilmu Kebumian


Image

Ini merupakan catatan akhir tahun saya.

Pekerjaan saya menuntut untuk mengunjungi dan bekerja bersama beberapa pemerintah daerah. Ada banyak hal bisa saya simpulkan dalam kaitan dengan aplikasi bidang ilmu geografi.

Geografi sebagai ilmu tampaknya masih terlupakan dan tidak dikenal oleh banyak pihak. Demikian pula dengan ilmu-ilmu lain yang berbasis geoscience seperti geologi, geodesi, klimatologi.dll masih merupakan ilmu yang terpinggirkan. Wikipedia menuliskan singkat saja mengenai geografi bahwa Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang lokasi serta persamaan dan perbedaan (variasi) keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi. Kata geografi berasal dari Bahasa Yunani yaitu gêo (“Bumi”) dan graphein (“tulisan”, atau “menjelaskan”).
Geografi juga merupakan nama judul buku bersejarah pada subjek ini, yang terkenal adalah Geographia tulisan Klaudios Ptolemaios (abad kedua).
Geografi lebih dari sekedar kartografi, studi tentang peta. Geografi tidak hanya menjawab apa dan dimana di atas muka bumi, tapi juga mengapa di situ dan tidak di tempat lainnya, kadang diartikan dengan “lokasi pada ruang.” Geografi mempelajari hal ini, baik yang disebabkan oleh alam atau manusia. Juga mempelajari akibat yang disebabkan dari perbedaan yang terjadi itu.

Sebagai negara dengan luas wilayah besar dan variasi bentang alam yang luar biasa kaya, maka geografi dan ilmu dasar berbasis kebumian lain (geoscience) seharusnya menjadi ilmu yang penting untuk dikembangkan dan menjadi dasar dalam pelaksanaan kehidupan, pembangunan dan semua aspek lain.
Ada beberapa alasan mengapa geografi menjadi hal yang terpinggirkan.
1. Fokus Pengembangan Ekonomi
Dari awal sekali bahwa pembangunan manusia di Indonesia difokuskan pada peningkatan kesejahteraan melalui pengembangan ekonomi. Sayangnya adalah pembangunan ekonomi dilakukan dengan melupakan basic science yang kemudian melahirkan pembangunan dengan arah yang tidak memiliki dasar. Ambil saja contoh mengenai pembangunan sector kehutanan yang dilakukan secara massive dalam kurun waktu 80-an sampai 90-an. Kegiatan ini dilakukan dengan minimnya pengetahuan mengenai peta kawasan hutan, kondisi hutan dan juga mengenai aspek-aspek ekologis yang melibatkan ilmu dasar geografi (termasuk geomorfologi), klimatologi, biologi, ilmu tanah, dll. Yang terjadi adalah ketika ekspansi pengembangan ekonomi dilakukan tidak direncanakan dengan baik dimana lokasi yang boleh dan tidak boleh, dimana lokasi yang sesuai dan tidak sesuai dan ujungnya adalah bagaimana dampaknya. Demikian pula dengan sector pertambangan, dimana aplikasi geografi dan geoscience lainnya justru dipegang oleh para kontraktor dan perusahaan pertambangan besar yang berasal dari luar negeri.

2. Leadership
Kepemimpinan menjadi kata kunci disini, meskipun para pendiri bangsa mengerti sekali bahwa aspek-aspek geografi sangat penting, tetapi pemimpin lanjutannya sangat tidak mengerti bahwa geografi merupakan ilmu pengetahuan yang penting untuk memetakan wilayah Indonesia yangbegitu luas dan kemudian menggunakan peta-peta tersebut untuk mengambil kebijakan yang tepat.

3. Dukungan Kebijakan
Kebijakan menjadi factor lanjutan dari leadership, ketidak pahaman para pemimpin bangsa mengenai geografi dan beberapa ilmu dasar lain membuat kebijakan yang dibangun tidak didasari oleh data dan informasi mengenai lokasi yang cukup.
Misalnya kebijakan mengenai alokasi penggunaan lahan yang dilakukan oleh pemerintahan tidak dilakukan dengan menggunakan data yang cukup mengenai lokasi.
Jangan heran kalau kemudian banyak dokumen penting untuk perencanaan melalui dokumen tata ruang tidak dilengkapi dengan peta dan informasi spatial yang akurat. Akibatnya bisa dilihat sendiri, ketika kemudian alokasi pemukiman dan perindustrian dilakukan di wilayah pertaanian yang subur, kemudian satu waktu Indonesia akan mengandalkan pangan pada ekspor.

Apa yang kemudian bisa dilakukan adalah melakukan usaha untuk meningkatkan pendidikan dibidang Geografi, serta ilmu kebumian lain. Pada level implementasi bisa dilakukan kegiatan peningkatan kapasitas mengenai pengelolaan dan analisis data keruangan dengan menggunakan dasar ilmu geografi dan ilmu kebumian lainnya.
Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar.

LEDS: Strategi Pembangunan Rendah Emisi


Ketika kegiatan-kegiatan terkait dengan perubahan Iklim memperkenalkan konsep LEDS atau low emission development strategy, sebenarnya cukup sulit menggambarkan kegiatan pada tingkat lokal. Bicara pada tingkat implementasi sebenarnya banyak sekali yang bisa dilakukan, pada sektor-sektor energi, sektor kehutanan, dll. Yang sulit justru bagaimana pada tingkat strategi, bagaimana memastikan bahwa LEDS diimplementasikan dan bukan hanya menjadi wacana.

Kemudian ketika membaca artikel OECD mengenai LEDS saya berpikir bahwa kebijakan ini sebenarnya adalah sama dengan RAN GRK. Pada tingkat regional maka ini adalah RAD GRK, dan ini sampai pada tingkat provinsi. Lalu bagaimana dengan kabupaten?

Pada tingkat kabupaten strategi LEDS yang paling mungkin adalah bagaimana mengintegrasikan LEDS dalam perencanaan pembangunan, baik itu tercantum dalam RPJMD, RTRWK atau pada RENSTRA SKPD. Ini adalah satu cara efektif dimana LEDS sudah menjadi bagian dalam perencanaan pembangunan. Menurunkan strategi LEDS bisa dilakukan dengan menguraikan dokumen RAD GRK Provinsi untuk dipilih dan diaplikasikan sesuai dengan kondisi daerah.

Peraturan Kehutanan Papua: Kenapa Berubah


Belum lagi selesai denganSK no 458 Kemenhut kembali mengeluarkan SK terbaru yaitu SK no  782 yang dikeluarkan bulan Desember 2012.

Berikut adalah link untuk SK tersebut.

SK.782_.MENHUT-II_.2012_.PROV_.PAPUA_1

Lampirannya SK berupa peta:

Lampiran_SK.782_MENHUT-II_2012_

The Role and Scope of Spatial Planning (Vincent Nadin University of the West of England, Bristol, UK)


The emergence of the planning reforms and ‘the spatial planning approach’ have

been influenced by many factors. There is no simple equation showing how the

factors came together. The perceived marginalisation of the planning system from

wider decision making and outcomes, and particularly its limited influence on

the factors that are shaping spatial development provide the context. The spur

for change comes from awareness of the need for a spatial dimension in the task

of joining-up government in order to achieve critical economic and social

outcomes and avoid the costs of non-coordination. This is strongly supported by

advocacy for a renewed approach to planning in support of sustainable

development. In that context, the European spatial planning discourse and

emerging or renewed concepts of space and place have provided some

inspiration for the direction of change. But all this leaves many questions for

how spatial planning is put into practice.

Detail :

just click this: rolespatialplanning

 

Buku Online


Dulu sekali saya pernah mendownload buku online untuk perpustakaan kecil di Papua.

Sekarang saya mencoba menshare data tersebut via 4shared.

Kalau berminat bisa cek link berikut untuk download:

http://www.4shared.com/folder/GsCld_UM/Buku_Online.html

 

 

http://www.4shared.com/folder/GsCld_UM/Buku_Online.html

 

Banjir Jakarta dan Revisi Tata Ruang


Kejadian bencana akan sangat erat kaitannya dengan bagaimana manusia mengelola ruang didalam aktifitasnya. Pengelolaan ruang yang tidak benar akan menjadi penyebab utama adanya bencana. 

Analogikan saja dengan rumah sendiri, jika kita meletakkan kamar mandi lebih tinggi dari kamar, atau tidak membuat saluran pembuangan air yang baik maka bisa saja kamar sewaktu-waktu akan tergenang terkena limpasan air keran yang debitnya tidak akan besar.

Demikian pula dengan kejadian bencana banjir di jakarta, sebagian besar karena penerapan alokasi ruang yang tidak tepat. Adapun dari sisi penataan ruang beberapa hal yang terabaikan dan perlu diperbaiki adalah:

1. Alokasi ruang terbuka hijau dan ruang resap air yang tidak memadai.

2. Sistem drainase yang tidak direncanakan dengan baik.

3. Penataan ruang kawasan tidak memperhitungkan faktor-faktor fisik liongkungan alami dengan detail.

 

Satu hal yang harus dilakukan adalah revisi Tata Ruang Jakarta baik itu tata ruang wilayah maupun detail tata ruang. 

 

Photography: Iphone Photos


iphone provided quite good picture.

Please take a look some of my pictures taken by iphone 4s.

Image
Jayawijaya Mountain,Papua
Image
Asmat handcraft, Papua Indonesia
Sarmi Port
Sea Port in Sarmi
Image
Sunset in Sarmi, PapuaImage

 

Image
Jayapura Papua (taken from BOENG 747)

More to come….

Where is your name come from?


In process of  searching name for my upcoming  baby, I also tried to find the source of my name and my wife name.

Here they are.

Donna Elvira

My wife name  from Italian name,  taken from famous opera character in opera Il Don Giovanni. It was premiered by the Prague Italian opera at the Teatro di Praga (now called the Estates Theatre) on October 29, 1787. Donna Elvira is leading woman character with soprano voice. This a very famous opera story until now.

Musnanda Satar

My name  from India name taken from Sanskrit name, Nanda supposed to character from Sanskrit book, this a male name as head of cowherd man and also another name for Khrisna father name Nanda Maharaja.

I have no idea why (Pak Satar) my father put Mus in front of Nanda and became Musnanda. My name become unique then.

Some of my friend said that Nanda supposed to be a girl  name, upps they are wrong.