Perencanaan Kota: Untuk Kapan?


Dalam perjalanan ke Boven Digoel saya duduk di pinggir dan punya kesempatan melihat struktur Kota Tanah Merah dari atas, struktur kota dibuat memanjang dan memisahkan antara kota lama dengan kota baru yang sudah dirancang.

Memasuki kota Tanah Merah yang saya lakukan pertama kali adalah keliling kota dan melihat pembangunan baru di beberapa lokasi. Bukan dalam kapasitas inspektur atau apapun, tapi hanya ingin memuaskan keingin tahuan saya sebagai planner. Ternyata jarak antara lokasi pemerintahan yang baru dengan yang lama cukup jauh, bukan hanya jauh tetapi lebih kemasalah aksesibilitas dimana lokasi tesebut tidak terlayani kendaraan umum dan kondisi jalan belum aspal sampai ke lokasi.

Dulunya saya pernah melihat rancangan lokasi tersebut dan cukup terkagum karena lokasi dirancang menggunakan IKONOS oleh satu konsultan. Meskipun hasilnya buat saya cukup mengagetkan karena seolah-olah lokasi ini dibangun untuk kurun waktu 10 tahun atau 15 tahu kedepan.

Dalam banyak pengamatan saya, lokasi-lokasi beberapa kabupaten baru di Papua misalnya dibangun lokasi-lokasi dengan rancangan untuk 1o tahun kedepan. Memisahkan lokasi antar kantor dengan jarak yang jauh memang bagus untuk antisipasi ke masa depan. Permasalahannya adalah, apakah faktor aksesibilitas sudah diperhitungkan.

Ini cerita teman-teman lapangan, bayangkan untuk menjangkau lokasi tersebut dari kantor satu dengan yang lain butuh waktu yang cukup lama. Padahal sudah menggunakan kendaraan sepeda motor. Bayangkan jika masyarakat yang memerlukan pelayanan, apakah bisa menjangkau wilayah tersebut.

Perjalanan ke Boven Digoel


Boven Digoel merupakan satu dari sekian wilayah di Indonesia dengan sejarah yang cukup panjang. Tahun 1935 lokasi ini menjadi lokasi penjara Proklamator Kita M. Hatta.

Lokasi penjara sekarang masih ada, tetapi kondisinya tidak terawat dengan baik. Dimana bangunan ini kosong dan tidak ada ornamen apapun, hanya kosong saja. Sementara perawatan berupa mencat kembali justru tidak membantu karena membuat bangunan kelihatan berbeda. Kompleks penjara terdiri atas beberapa bangunan. Sayangnya bangunan yang terawat hanya 2 bangunan saja. Sisanya tidak terawat dan bahkan ada yang ditempati. Mustinya bangunan in merupakan bangunan bersejarah yang harus dilestarikan.

Perjalanan selanjutnya juga menyusuri sungai Digoel, sungai ini merupakan nadi buat masyarakat Mandobo di wilayah Digoel. Secara ekonomi sungai ini merupakan pusat kegiatan masyarakat, tempat mencari ikan serta menjadi sumber air. Sungai digoel merupakan aliran sungai terbesar di bagain selatan yang mencakup wilayah Boven Digoel. Jika diperhatikan, pola pemukiman yang ada di wilayah ini merupakan pola pemukiman yang mengikuti jalur sungai.

Perencanaan Wilayah Kepulauan


Bulan Juni kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Yapen. Wilayah kepulauan dengan satu pulau besar yapen yang memanjang dan juga dengan beberapa pulau kecil di sekelilingnya.

Berkeliling dibagian selatan mulai dari distrik Poom sampai distrik Yapen Utara memberikan gambaran umum buat saya mengenai kondisi Pulau Yapen. Dengan luas areal datar dan pantai yang sempit, Yapen tidak bisa menggantungkan hidup pada pertanian sekala besar. Hanya pertanian sekala kecil dengan tanamana keras yang mampu diolah dan menjadi produk unggulan. Sebut saja misalnya tanaman pinang dan coklat.
Yang paling memungkinkan untuk menjadi andalan pengembangan wilayah adalah pemanfaatan sumberdaya laut, dengan garis pantai yang panjang maka pengembangan wilayah yang paling memungkinkan adalah pengembangan produk pertanian. Aglomerasinya sebenarnya bisa dengan Pulau Biak. Jarak Yapen yang hanya sekitar 60 km dari Biak memungkinkan pengembangan produk kelautan secara bersama.

Penataan Ruang Wilayah Pedalaman


Penataan ruang sangat diperlukan setiap wilayah. Dalam konteks kali ini akan dijabarkan beberapa permasalahan mendasar mengenai kekurangan-kekurangan dalam kegiatan penataa ruang di wilayah pedalaman.
Remote Area in Tiom, Papua, Indonesia 
Remote Area in Tiom, Papua, Indonesia

Keterpencilan, Aksesibilitas dan Dampaknya.

Salah satu hal masalah terbesar dalam penataan ruang di wilayah pedalaman adalah keterpencilan, dampaknya sangat besar. Aksesibilitas yang rendah ke wilayah pedalaman menyebabkan tertutupnya akses ke pasar bagi produk-produk di wilayah pedalaman, disisi lain juga menyebabkan sulitnya pasokan kebutuhan dari luar. Pada banyak wilayah pedalaman, harga barang-barang yang didatangkan dari luar menyebabkan tingginya harga, melemahkan daya beli masyarakat. Dari sisi lain, keterpencilan menjadikan pelayanan ke masyarakat menjadi sulit. Baik itu yang menyangkut pelayanan pendidikan, kesehatan serta pelayanan lain yang tujuannya untuk masyarakat.

Perencanaan Berbasis Lokal

Pada kondisi ini perencanaan harus disusun berdasarkan kondisi wilayahnya secara lebih  detail. Mulai dari kondisi fisik wilayahnya, kondisi biologi, masyarakat dan budayanya, infratruktur dasar dan aspek-aspek lain. Salah satu aspek yang terpenting adalah pendekatan yang dilakukan harus menggunakan pendekatan partisipatif yang lebih menekankan pada pengikut sertaan masyarakat secara langsung. Mengapa perencanaan berbasis lokal sangat penting, karena nilai-nilai yang ada serta aspek-aspek sosial dan  budaya memiliki perbedaan dengan kelas-kelas atau kategori yang digunakan dalam perencanaan formal yang mengacu pada sekian banyak peraturan, mulai dari UU 26/2007  sampai pada KepmenKimpraswil.

Contoh mudahnya, dalam UU penataan ruang misalnya membagi kawasan berdasarkan kawasan lindung dan kawasan budidaya. Maka wilayah seperti ini kawasan lindung dan kawasan budidaya bercampur. Sistem masyarakat yang masih tergantung pada alam, menuntut kondisi budidaya harus tetap lestari sehingga sumberdaya alam bisa terus diambil tanpa merusak sedikitpun.

GIS dan Penataan Ruang


Diskusi mengenai GIS dan Penataan Ruang kembali “hot” di salah satu milis. Meskipun sudah bosan dibicarakan tetapi masih belum pernah bisa  disimpulkan dengan jelas mengenai seberapa besar kaitan GIS dan Penataan Ruang.

Dulunya dalam banyak session kuliah plano disebutkan bahwa perencanaan menyangkut hal-hal terkait spatial dan a-spatial. Tetapi basic saya dengan latar belakang Geografi lebih melihat aspek spatial dalam perencanaan. Bahwa aspek ruang dalam perencanaan menjadi sangat penting dalam tahap awal perencanaan, bahwa segala visi-misi perencanaan hanya bisa dirumuskan dengan lebih tepat ketika gambaran spatial suatu wilayah telah jelas digambarkan.

Bagaimana dengan pertanyaan “Seberapa besar peranan GIS dalam perencanaan ruang”?

Merupakan tantangan buat saya yang geograf dan bumbu planner untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bukankah GIS sebagai tools aplikasi geografi memang menjadi alat yang paling tepat dalam membuat aplikasi-aplikasi spatial baik itu perencanaan ruang, lingkungan, perdagangan, pertambangan dan lain-lain. Bahwa saya percaya aspek penataan ruang saat ini mememrlukan GIS sebagai suatu alat untuk membangun framework sebagai kerangka spatial yang memungkinkan proses keberlanjutan didalamnya.

Peluang dan Hambatan

Peluang pastinya besar sekali dalam pengembangan GIS bagi perencanaan khususnya perencanaan ruang.   Sebagai sebuah alat bantu berbasis komputer dalam pengelolaan data keruangan maka peluang yang ada mencakup beberapa aspek seperti:

  • Membangun basis data yang bisa dikembangkan dimasa depannya.
  • Mempercepat proses analisa dan memberikan informasi berbasis akurasi yang baik.
  • Memungkinkan proses monitoring dan evaluasi dengan menggunakan parameter yang sesuai.

Dalam banyak kajian disebutkan bahwa GIS memungkinkan  proses updating data, memungkinkan adanya analisis berdasarkan akurasi yang diinginkan, serta pada suatu sistem yang lengkap serta terpelihara (manage) maka memungkinkan monitoring dan evaluasi bisa dilakukan yang memungkinkan tujuan perencanaan bisa dijaga, dan bukan hanya sebatas perencanaan.

Hambatan dalam pemanfaatan GIS dalam perencanaan ruang justru muncul dari hal-hal diluar bidang GIS seperti ketersediaan data,  kemampuan operasional GIS, keberlanjutan pengoperasian GIS pasca pengerjaan perencanaan. Dalam banyak kasus disebutkan bahwa aplikasi GIS yang sesungguhnya dalam perencanaan  ruang terbentur oleh keterbatasan data. Hambatan lainnya yang ada adalah meskipun data tersebut ada, tetapi keberadaan data tidak dapat diakses.

Sebuah Solusi

Pengembangan sebuah lembaga yang menangani data spatial pada tingkat kabupaten atau propinsi dapat menjadi jawaban. Dimana lembaga ini mengkoordinir keberadaan data spatial ditingkat kabupaten dan kemudian menjadi pusat data bagi semua yang membutuhkannya. KOnsepnya sama dengan resource center, dimana dalam konsep Knowledge Management, resource center ini akan menaungi capturing, sharing data dan informasi.

Sejumlah protokol harus dibuat, sejumlah aturan main perlu dibuat. sehingga sebegitu banyaknya ata dan informasi spatial yang ada di masing2 sektor, lembaga, intitusi dll bisa diberdayakan secara spatial. Khususnya data spatial yang pengadaannya memang membutuhkan banyak dana.

Musnanda Satar

GIS Specialist and Regioanal Planner