Mencegah Hilangnya Hutan Tropis Yang Tak Tergantikan


Hutan tropis memiliki nilai penting yang dalam berbagai aspek, mulai dari ekologi, ekonomi, sosial budaya. Nilai ekologi dapat diukur dari keanekaragaman hayati didalam hutan yang kemudian dapat dinilai berdasarkan kekayaan genetik untuk obat-obatan, pertanian dan industri. Nilai ekologi juga dapat dilihat dalam aspek jasa ekosistem dimana hutan tropis menjadi penyedia pengaturan air, kesuburan lahan, penyerbukan dan tentunya jasa ekosistem terkait iklim.

Berdasarkan data dari Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP), Indonesia masuk dalam lima besar negara dengan kekayaan keanekaagaman hayati di dunia dimana hutan tropis Indonesia menyimpan 55% spesies endemis tanaman, 13% jenis mamalia dunia dengan 515 jenis merupakan endemik, 16 % jenis flora dunia, dan 10% spesies fauna lain yang masuk kelas amfibi, burung, ikan, hewan vertebrata dan invertebrata lainnya. Kekayaan keanekaragaman hayati di Indonesia sebenarnya masih belum semuanya diketahui, Kompas merilis yang terbaru di 2024 saja kajian BRIN mengungkap 98 taksa baru di Indonesia. Secara rinci 98 taksa atau kelompok dari jenis organisme yang diidentifikasi tersebut, meliputi, 43 spesies baru, 1 subspesies baru, 1 varietas baru, dan 53 rekaman baru dari kelompok flora, fauna, dan mikroorganisme. Untuk spesies baru, paling banyak ditemukan dari spesies fauna sebanyak 26 spesies, kemudian flora sebanyak 11 spesies dan mikroorganisme sebanyak 6 spesies. Dapat dibayangkan kerugian yang didapat jika hutan tropis Indonesia terdeforestasi tanpa dilakukan kajian penilaian yang lengkap dan menyeluruh.

Hutan tropis memiliki nilai lebih dibandingan dengan jenis hutan lain di dunia, dimana riset menunjukkan bahwa hutan hujan tropis Amazon memiliki kekayaan biodiversity lebih dari 2 jali lipat dibandingkan dengan dataran rendah sepanjang pantai Atlantic Forest dan beberapa kali jauh lebih tinggi dari hutan savanna di Brazil (Borma et al, 2022). Kekayaan biodiversity ini berbanding lurus dengan fungsi jasa ekosistem yang ada dalam hutan, dimana semakin kompleks struktur, komposisi dan fungsi ekosistem di dalam hutan, maka peran hutan tersebut akan semakin kaya secara ekosistem dan biodiversity.
Sementara itu untuk melihat nilai ekonomi dari hutan tropis dapat dilihat dari hasil hutan secara langsung, baik dari hasil kayu maupun produk non kayu seperti madu, rotan, resin (damar) dan tanaman obat. Nilai ekonomi hutan juga bisa didapatkan dari kegiatan wisata yang dapat menarik wisatawan baik local maupun internasional. Aspek ekonomi yang belum tergarap secara utuh adalah aspek finansial terkait perubahan iklim dimana menjaga hutan tropis dan stok karbon nya dapat menghasilkan pendanaan. Nilai ekonomi akan terkait dengan nilai budaya, misalnya hutan menjadi tempat bagi masyarakat adat yang menggantungkan penghidupannya di hutan dan menjadikan hutan sebagai tempat penting bagi budaya secara turun temurun.

Mempertajam argumentasi bahwa hutan tropis memiliki nilai penting tentu saja salah satu yang bisa dilakukan adalah menjabarkan kuantifikasi dari nilai hutan dalam bentuk nilai mata uang. Ada beberapa riset yang sudah dilakukan untuk menghitung nilai dari hutan tropis di dunia, The Economics of Ecosystems and Biodiversity (TEEB) ditahun 2010 mengeluarkan riset yang mencoba mengkompilasi riset yang menghitung nilai dari hutan alam dimana kajian menyebutkan di Kamerun hutan alam dalam luasan satu hektar per tahun memiliki nilai ekonomi kayu sebesar 560 US$, 61 US$ untuk nilai kayu bakar, dan 41-70 US$ untuk nilai ekonomi non timber. Nilai ini masih dapat ditambah dengan nilai 842-2.265 US$ nilai ekonomi terkait perubahan iklim, ditambahkan dengan nilai jasa ekosistem air dari hutan di Kamerun dikalkulasikan 24 US$ per hektar per tahun. Sebuah riset di Leuser, Indonesia menyebutkan ekosistem Leuser memberikan kontribusi senilai 2,42 milyar dollar US untuk wilayah hutan seluas 25.000 km2. Nilai jasa ekosistem air dapat ditambahkan dengan fungsi hutan sebagai penyerap air dimana riset di Hawai menyebutkan 40.000 hektar hutan memberikan nilai ekonomi tidak langsung sebesar 1,42 -2,63 juta dollar. Menarik juga riset mengenai peran hutan dalam membantu proses penyerbukan terkait tanaman kopi di Sulawesi, kehilangan hutan 1 hektar akan menyebabkan penurunan produksi kopi dengan nilai 47 uero per tahun.

Salah satu bentuk penilaian lain dari hutan adalah mengenai komitmen pendanaan konservasi hutan, riset yang dilakukan di UK dan Italy menyebutkan satu keluarga rela memberikan 46 dollar Amerika per hektar untuk konservasi hutan di Amazon. Akan sangat menarik jika misalnya riset-riset tersebut dapat dilakukan di Indonesia, misalnya bagaimana menghitung kontribusi ekonomi taman nasional Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang memberikan kontribusi penyediaan air bersih bagi industri minuman yang mengambil air dari sana, misalnya menghitung nilai ekonomi dari produsen air kemasan, air minum olahan dan produk air lainnya yang mengambil jasa lingkungan air dari keberadaan hutan di dua taman nasional tersebut.

Bagaimana dengan kondisi hutan tropis di Indonesia, dengan menggunakan baseline data KLHK sejak tahun 1990 maka deforestasi di Indonesia dapat dibagi atas beberapa periode waktu; pada perode 1990-1996 terjadi deforestasi seluas 1,9 juta hektar, pada periode 1996-2000 sebesar 3,5 juta hektar, rentang waktu dimana deforestasi besar juga terjadi ditahun 2014-2015 dengan luasan 1 juta hektar. Angka deforestasi menurut KLHK menurun dimana pada tahun 2022-2023 adalaj 133.833 hektar dan angka net deforestasi adalah 121.103 hektar. Berdasarkan laporan KLHK deforestasi terbesar adalah kelas tutupan hutan sekunder dimana luasan terbesar ada di hutan produksi tetap dan APL yang nilainya diangka 50 ribu hektar. Melihat trend deforestasi dari tahun ketahun beberapa penyebab utama deforestasi adalah konversi lahan bertutupan hutan menjadi perkebunan yang didominasi perkebunan sawit. Riset dengan menggunakan kurun waktu 2001-2016 menunjukkan deforestasi di Indonesia berasal dari Perkebunan sawit 23%, hutan tanaman 14%, pertanian skala kecil 15% dan perkebunan lain berskala besar 7%, sisanya adalah menjadi kegiatan lain (Austin et al 2019).

Belakangan pemerintah mengeluarkan wacana untuk mencadangkan kawasan hutan seluas 20,6 juta hektar untuk lahan cadangan pangan dan energi. Wacana ini menyebutkan bahwa terdapat potensi penggunaan kawasan hutan untuk pengembangan produk-produk pangan seperti padi gogo serta perkebunan untuk energi. Terlepas dari pentingnya aspek ketahanan pangan dan energi di Indonesia, upaya menjaga sisa hutan tropis di Indonesia menjadi prioritas utama jika kita tidak ingin kehilangan semua kekayaan biodiversity tersebut. Telah dilakukan banyak penelitian mengenai kerugian konversi hutan tropis artikel terbaru oleh Marsh et al (2024) menyebutkan bahwa konversi hutan tropis menyebabkan kehilangan biodiversity dan sekaligus merusak jasa lingkungan seperti rantai makanan, penyimpanan karbon dan peran pengatur air/siklus hidrologi. Riset menunjukkan bahwa kehilangan tutupan hutan menyebabkan hilangnya habitat dan mengubah kondisi iklim mikro yang ada didalam hutan. Studi yang membandingkan beberapa tipe penggunaan hutan menyebutkan bahwa semakin besar bukan tutupan hutan termasuk tutupan kanopi pohon maka dampak terhadap kehilangan biodiversity serta tergangunya fungsi ekosistem akan semakin besar. Dampak dari kegiatan yang tidak menebang pohon, kegiatan logging serta kegiatan penebangan besar-besar untuk digantikan tanaman sejenis akan berbeda dan semakin besar untuk jenis pembukaan hutan untuk perkebunan atau tanaman sejenis lainnya.

Hutan merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, tetapi tanpa melakukan kajian serta kegiatan yang memperhatikan aspek biodiversity dan jasa ekosistem maka kehilangan hutan tropis primer tidak akan bisa mengembalikan kekayaan biodiversity tropis yang ada (Gibson et al. 2011). Kegiatan manusia sangat berpengaruh terhadap kelestarian hutan tropis di Indonesia bentuk-bentuk penggunaan yang dipicu oleh kegiatan manusia dapat memicu kehilangan biodiversity dan jasa lingkungan dua kali Barlow et al. 2016).

Kajian-kajian tersebut menguatkan bahwa peran manusia dalam menjaga hutan sangat penting untuk menjaga fungsi hutan sebagai penyedia hasil-hasil hutan, jasa lingkungan, peran menjaga kualitas udara dan dampak perubahan iklim, karena itu dituntut kebijakan oleh manusia sebagai makhluk antropogenis membuat kebijakan-kebijakan yang lebih baik.

Hutan Kalimantan dan ancaman deforestasinya.

Hari Bumi 2024: Perang antara Kelestarian Planet vs Plastik


Seperti tahun-tahun sebelumnya, 22 April diperingati sebagai hari bumi. Tahun ini tema yang diambil adalah Planet vs. Plastik dimana salah satu target nya adalah mengurangi produksi plastik sampai 60% ditahun 2040.


Hari Bumi mulai diperingati pertama kali tahun 1970 dimana inisiatif ini pertama kali oleh Senator Gaylord Nelson dari Wisconsin yang menjadi saksi saat terjadi tumpahan minyak di Santa Barbara. Gerakan ini menjadi besar saat Senator tersebut merekrut aktifist Denis Hayes yang melakukan kampanye ke seluruh Amerika dan menetapkan tanggal 22 April sebagai Hari Bumi. Ketika perayaan Hari Bumi dilakukan pertama kali tahun 1970 duoerkurakan Gerakan ini memberikan inspirasi bagi 20 juta rakyat Amerika Serikat. Sejak saat ini gerakan lingkungan terus berjalan dan menjadi agenda global, dimana salah satu milestone penandatanganan Paris Agreement tahun 2016 dilakukan bersamaan dengan Hari Bumi. Secara detail mengenai Hari Bumi dapat dibaca secara detail dalam website EarthDay.org.


Di Indonesia Hari Bumi diperingati oleh banyak kalangan mulai dari Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat bidang Lingkungan dan Akademisi. Saat ini kegiatan Hari Bumi menjadi agenda banyak lembaga dimana kegiatan yang dilakukan antara lain kampanye, talkshow sampai kegiatan lapangan berupa penanaman pohon atau kegiatan bersih lingkungan.


Tahun 2024 tema yang diambil untuk Hari Bumi adalah Planet vs. Plastik dengan mengedepankan pengurangan produksi plastic secara global. Sampah plastik memang telah menjadi isu lingkungan global yang mengancam lingkungan hidup dan mendampak pada kesehatan manusia, kelestarian keanekaragaman hayati dan menyumbang krisis iklim. Sampah plastic tidak mudah terurai bahkan bisa bertahan sampai ratusan tahun, selain itu sampah plastic dibuat dari bahan bakar fossil yaitu minyak bumi. Sampah plastik bersifat beracun dan menjadi pemicu beberapa penyakit seperti kanker dan beberapa penyakit kulit.


Beberapa agenda pada tingkat global telag disepakati seperti pengurangan produksi plastic dari bahan baku minyak bumi, mengharuskan produsen dan penyalur untuk memasukkan komponen biaya lingkungan, adanya Investasi untuk pengganti plastik, melarang ekpor sampah plastic, melarang pembakaran sampah plastik serta adanya pembiayaan untuk kampanye ke public mengenai sampah plastik. Kegiatan-kegiatan diatas menjadi tanggung jawab bersama, baik oleh pemerintah sebagai regulator, swasta terutama produsen, penyalur dan pengguna plastic, Lembaga swadaya Masyarakat dan Masyarakat secara langsung.

Urgensi Kebijakan Pembatasan Plastik di Indonesia

Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastic nomor dua di dunia berdasarkan studi oleh Jenna R. Jambeck tahun 2015 tentang sampah plastik laut. Studi ini menyebutkan adanya 192 negara berbatasan laut yang diperkirakan menghasilkan 275 juta metrik ton sampah plastik ditahun 2010, dimana 4,8 sampai 12,7 juta ton terbawa sampai ke laut. Hasil riset lainnya dari UC Davis dan Universitas Hasanuddin menunjukkan 23% sampel ikan yang diambil memiliki kandungan mikro plastik.
Intervensi Kebijakan dalam produksi dan pemakaian bahan plastic menjadi sangat penting, banyak riset yang menunjukkan hanya dengan Kebijakan daerah dalam membatasi penggunaan kantong plastic saja sudah mampu menurunkan konsumsi lebih dari 50 persen, ambil contoh Peraturan Gubernur Bali no 87 tahun 2018 yang mampu menurunkan penggunaan kantong plastic sampai 57%. Kebijakan yang sama dilakukan di Jakarta terutama pada retail-retail yang mampu memberikan dampak dalam menurunkan penggunaan kantong plastik. Dengan target 60% seperti tema hari bumi, maka kebijakan harus diperluas lagi pada produk-produk yang selama ini menggunakan plastik seperti produk minuman botol, produk makanan dan layanan retail yang masih menggunakan kantong plastik.


Situs Earth.org merilis 15 permasalahan lingkungan yang perlu diperhatikan oleh semua penduduk planet ini, yang pertama adalah isu perubahan iklim yang memang sudah dirasakan oleh Indonesia, kedua yang cukup mengagetkan adalah permasalahan lemahnya pemerintahan dalam mengambil kebijakan yang lebih mementingkan ekonomi tanpa memikirkan dampak lingkungan dalam jangka panjang. Isu-isu lainnya menyusul seperti sampah makanan, kehilangan keanekaragaman hayati, plastic, deforestasi, polusi udara sampai pada isu degradasi kualitas tanah. Jika ditelisik lebih jauh antara satu isu dengan isu lain akan berkaitan, misalnya isu-isu polusi plastic diatas akan tetap menjadi ancaman selama kebijakan negara tidak turun tangan untuk membatasi produksi dan penggunaan plastik.


Hari Bumi yang jatuh 22 April ini seharusnya dapat menjadi momen dimana upaya-upaya konservasi lingkungan hidup digaungkan kesemua pihak. Ada banyak pembelajaran-pembelajaran dari kerusakan lingkungan hidup yang tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi atau korban jiwa tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mewariskan satu-satunya bumi dimana tempat kita tinggal. Permasalahan lingkungan hidup di Indonesia saat ini cukup kompleks, bukan hanya sampah plastik tetapi permasalahan sampah dan limbah lainnya, kemudian yang cukup menyita belakangan adalah masalah kualitas udara serta ketersediaan serta kualitas air.

Catatan Akhir Tahun 2023


Tahun 2023 menjadi tahun menarik karena kegiatan-kegiatan sudah kembali normal pasca Covid 19. Tahun ini ada banyak hal-hal baru yang saya lead maupun ikut terlibat didalamnya, tahun ini juga ada beberapa capaian yang menarik misalnya beberapa kajian spatial yang saya lead sudah dapat diselesaikan.

Kajian Development by Design merupakan salah satu kajian yang saya lead untuk beberapa lokasi di Kabupaten Mahakam Hulu dan Provinsi Kalimantan Utara.

Kajian ini merekomendasikan pengelolaan dengan mitigasi avoid sekitar 1 juta hektar dari 1,7 luasan kabupaten. Sesuai namanya Mahakam Hulu menjadi wilayah penting untuk dilindungi sebagai sumber air bagi DAS Mahakam yang mencakup 7,6 juta hektar Kalimantan Timur. Jika kawasan ini rusak, maka akan rusak satu DAS di Kaltim.

Kajian DbD Kaltara merekomendasikan wilayah Avoid seluas 5,5 juta hektar dari luasan 7,7 juta hektar seluruh Provinsi. Kalimantan Utara merupakan salah satu provinsi dengan nilai konservasi penting dimana terdapat inisiatif Heart of Borneo dan Kalimantan Utara merupakan provinsi dengan rasio kawasan berhutan tertinggi di Kalimantan.

Tahun ini juga menarik karena ada banyak inisiatif baru yang muncul untuk konservasi di beberapa lokasi. Target ini penting karena akan berkontribusi ke target 2030.

Tahun ini ada beberapa publikasi ilmiah dimana saya terlibat dan ada empat op. ed yang dipublish di Kompas.

Pemahaman Pentingnya Keanekaragaman Hayati Dapat Menjadi Kunci Suksesnya Konservasi


IMG_0502
Bekantan (Proboscis Monkey) asli Indonesia yang ada di Kebun Binatang Singapore. Satu waktu mungkin hanya tersisa di kebun binatang, jika tidak dijaga.

Pertanyaan ini muncul ketika saya membaca kembali artikel  tentang wilderness map global yang menggambarkan kondisi kawasan yang benar-benar masih sangat baik. Baca: https://www.theguardian.com/environment/2018/oct/31/five-countries-hold-70-of-worlds-last-wildernesses-map-reveals 

Secara detail bisa dilihat juga di: https://www.nature.com/articles/d41586-018-07183-6 

1048
Peta Global Wilderness Areas

Indonesia tidak masuk dalam negara yang masih menyisakan kawasan yang belum terjamah yang merupakan sisa kawasan di dunia yang masih memiliki biodiversity yang tinggi.

Dalam banyak diskusi tentang pembangunan berkelanjutan dan konservasi, saya sering mendengar beberapa pertanyaan seperti. “Mana yang lebih penting antara pembangunan dan konservasi?” atau “Kita harus mendahulukan kepentingan masyarakat dibandingkan dengan kepentingan orangutan!”. Kesimpulan yang saya ambil adalah rendahnya pemahaman mengenai kepentingan mempertahankan keberlangsungan biodiversity di masyarakat.

Tulisan di The Guardian sangat menarik untuk dibaca, sebuah tulisan semi science yang menggambarkan pentingnya biodiversity: https://www.theguardian.com/news/2018/mar/12/what-is-biodiversity-and-why-does-it-matter-to-us 

Menilik buku-buku sekolah keponakan saya, pemahaman akan pentingnya keanekaragaman hayati masih belum tersampaikan. Pelajaran biologi yang saya lihat lebih mengedepankan hapalan akan taksonomi atau pengertian rumit tentang ekosistem. Padahal pemahaman mengenai pentingnya orangutan misalnya akan menjadi sebuah alur cerita yang menarik. Orangutan, burung dan kelelawar memiliki fungsi sebagai penyebar bijih yang sangat efektif, diciptakan Tuhan dengan menjadi seperti petani yang menjadi perantara tumbuhnya pohon-pohon baru. Seperti pertanyaan anak saya dipagi hari tentang kenapa banyak sisa-sisa jambu biji dibawah pohon, dan saya menjawab bahwa kelelawar menyebarkan bijih untuk kemudian tumbuh menjadi tanaman baru. Semut “sipekerja keras” merupakan agen pembersih yang laur biasa, tanpa semut maka proses dekomposisi sampah akan menjadi sulit. Biodiversity lainnya memberikan sumbangsih luar biasa terkait dengan dunai kedokteran, obat-obatan.

Biodiversity juga dapat dikaitkan dengan persediaan suplai makanan untuk manusia, dulunya sapi dan kambing juga merupakan hewan liar yang kemudian di domestikasi menjadi peliharaan. Ketik sapi atau kambing terkena wabah global misalnya, mungkin satu waktu rusa atau binatang liar lainnya bisa menjadi pilihan persediaan makanan.

Untuk menjaga biodiversity, maka menjaga keutuhan kawasan kawasan konservasi seperti Taman Nasional, Cagar Alam, dan Suaka Margasatwa menjadi kunci. Menjaga kawasan hutan sebagai habitat hewan-hewan tersebut akan menjaga sebuah siklus kehidupan, dimana manusia yang berada dalam puncak piramida memiliki kewajiban menjaga siklus ini.

Using Participatory GIS for Remote Area Mapping


Summary

Spatial planning in remote area always have problem with availability of spatial data. Spatial data available only from satellite imageries and some rough topographic maps in small  scale.

Combination of participatory GIS approach and technical mapping be able to solve the problem. Using satellite imagery for participatory mapping be able to collect more information as base for spatial planning.

Dalam perencanaan ruang wilayah terpencil ada kendala terkait dengan keberadaan data-data spatial yang sangat minim. Sumber data spatial yang ada terbatas hanya pada data peta topografi sekala  kecil misalnya peta dengan sekala 1:250.000.  Sumber data lain yang valid hanyalah citra satelit yang merupakan sumber data valid terbaru sesuai dengan pengambilan datanya. Bagaimana ini bisa dikombinasikan dan dilengkapi, dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan partisipatif.

Langkah-langkah Pendekatan

Pendekatan dilakukan dengan membuat sebuah perencanaan awal yang sama dengan kegiatan pemetaan lainnya.

1. Dimulai dengan menggumpulkan data-data spatial.

– peta topography yang tersedia; pada wilayah-wilayah yang terpencil peta-peta topografi yang tersedia, sangat terbatas pada sekala peta 1;250.000 atau paling detail adalah peta-peta dengan sekala 1:100.000. Sumber peta bisa digunakan dari peta Bakosurtanal atau pada wilayah-wilayah seperti Papua misalnya ada peta JOG dengan skala 1:100.000

– citra satelit; citra satelit merupakan foto kondisi wilayah terkini yang bisa didapatkan. berbagai jenis citra dapat digunakan mulai dari Landsat (www.landsat.org), IKONOS (www.satimagingcorp.com),

– DEM data; juga merupakan data yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan  gambaran mengenai kondisi topografi serta analisis lainnya terkait dengan kelerengan, dll.

2. Proses partisipatif

Participatory GIS atau GIS partisipatif bukan merupakan pendekatan baru, pendekatan ini telah diaplikasikan di banyak negara dan beberapa wilayah di Indonesia.

Pendekatan partisipatif mampu memberikan masukan bukan hanya terkait dengan usaha menjaring aspirasi, tetapi mampu dijadikan alat untuk mendapatkan data primer.

Beberapa langkah yang dilakukan terkait dengan pendekatan partisipatif ini adalah:

– sosialiasi ke stakeholder; jika kegiatan akan dilakukan ditingkat kampung misalnya dilakukan suatu sosialiasasi ketingkat kampung mulai dari staff pemerintahan, tokoh masyarakat dan juga beberapa tokoh munci lainnya.

– kegiatan workshop awal; dilakukan ditingkat kampung, kegiatan ini bisa dimulai dengan pemetaan dengan pembuatan sketsa kampung. lanjutannya adalah diskusi terarah dalam rangka melengkapi data-data yang ada di lokasi mulai dari nama-nama lokasi, nama-kampung, nama sungai serta yang juga bisa dilakukan adalah membuat peta gambaran penggunaan tanah. Pada tingkat yang lain, peta citra misalnya mampu digenerate menghasilkan peta landcover tetapi peta landuse harus digenerate dengan menggunakan pendekatan ini yang nantinya ditambahkan dengan survey.

– kegiatan survey lapangan; model pendekatan PRA seperti pembuatan transek mampu memberikan masukan bagi peta penggunaan tanah yang ada.  Survey yang dilakukan mampu memberikan gambaran mengenai penggunaan tanah yang sebenarnya.

Penggambaran hasil landcobver seperti tanah kosong, hutan, dll bisa dikoreksi menjadi ladang (terlihat kosong karena pada saat pemotretan citra sedang selesai panen), hutan (yang ternyata adalah mix kebun dengan belukar) atau bentukan land use yang lain.

– workshop akhir; merupakan tahap verifikasi bersama masyarakat, hasil gabungan analisis dengan GIS, workshop awal dan survey dipresentasikan kembali untuk kemudian diselesaikan sebagai hasil akhir peta. Beberapa data seperti batas kampung misalnya dapat ditarik sebagai bagian akhir dari kegiatan ini.

– mozaiking; kegiatan yang dilakukan di beberapa wilayah kampung, digabungkan dalam wilayah yang lebih luas seperti kecamatan. Proses ini mampu menghasilkan peta yang lebih luas cakupan areanya.

Output

Urutan kegiatan di atas sudah mampu memberikan gambaran mengenai output yang dapat dihasilkan dari kegiatan ini.

–  Update peta rupabumi dengan penambahan informasi dan data toponimi, penggunaan tanah, lokasi-lokasi penting.

–  Update informasi terkait dengan beberapa aspek seperti aspirasi terkait usulan pembangunan yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan kondisi medan dimana perencanaan ruang akan dilakukan.