Geografi dan Mudik


Sebuah perjalanan pastinya akan melewati ruang dari satu lokasi ke lokasi lain. Pastinya tidak akan jauh dari persoalan menyangkut geografi.

Bukan sebatas peta

Yang terpikir dari bahasa geografi mengenai kegiatan mudik tidak hanya selembar peta yang menuntun pemudik melewati satu rute. Peta memang menjadi entry point menarik buat geograf dalam melihat fenomena ini. Bagaimana melihat ketersediaan jalur, persebaran fasilitas (misalnya pompa bensin atau rest area). Banyak peta jalur mudik yang setiap tahunnya dicetak, menyediakan data dasar terkait ruang.

Padahal dalam banyak aspek mudik merupakan fenomena geografi yang mampu menjelaskan banyak hal secara ruang.

Analisis spatial

Bagaimanapun fenomena mudik mampu menjelaskan beberapa perpindahan dari urban ke rural. Mudik merupakan eksodus budaya yang paling nyata dari wilayah perkotaan ke wilayah pedesaan. Dimana di pemudik membawa banyak hal mulai dari aliran dana, aliran kebudayaa,dll.

Sebuah analisis yang detail akan mampu menjelaskan perpindahan-perpindahan-perpindahan tersebut dalam sekala ruang.

GIS dan Penataan Ruang


Diskusi mengenai GIS dan Penataan Ruang kembali “hot” di salah satu milis. Meskipun sudah bosan dibicarakan tetapi masih belum pernah bisa  disimpulkan dengan jelas mengenai seberapa besar kaitan GIS dan Penataan Ruang.

Dulunya dalam banyak session kuliah plano disebutkan bahwa perencanaan menyangkut hal-hal terkait spatial dan a-spatial. Tetapi basic saya dengan latar belakang Geografi lebih melihat aspek spatial dalam perencanaan. Bahwa aspek ruang dalam perencanaan menjadi sangat penting dalam tahap awal perencanaan, bahwa segala visi-misi perencanaan hanya bisa dirumuskan dengan lebih tepat ketika gambaran spatial suatu wilayah telah jelas digambarkan.

Bagaimana dengan pertanyaan “Seberapa besar peranan GIS dalam perencanaan ruang”?

Merupakan tantangan buat saya yang geograf dan bumbu planner untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bukankah GIS sebagai tools aplikasi geografi memang menjadi alat yang paling tepat dalam membuat aplikasi-aplikasi spatial baik itu perencanaan ruang, lingkungan, perdagangan, pertambangan dan lain-lain. Bahwa saya percaya aspek penataan ruang saat ini mememrlukan GIS sebagai suatu alat untuk membangun framework sebagai kerangka spatial yang memungkinkan proses keberlanjutan didalamnya.

Peluang dan Hambatan

Peluang pastinya besar sekali dalam pengembangan GIS bagi perencanaan khususnya perencanaan ruang.   Sebagai sebuah alat bantu berbasis komputer dalam pengelolaan data keruangan maka peluang yang ada mencakup beberapa aspek seperti:

  • Membangun basis data yang bisa dikembangkan dimasa depannya.
  • Mempercepat proses analisa dan memberikan informasi berbasis akurasi yang baik.
  • Memungkinkan proses monitoring dan evaluasi dengan menggunakan parameter yang sesuai.

Dalam banyak kajian disebutkan bahwa GIS memungkinkan  proses updating data, memungkinkan adanya analisis berdasarkan akurasi yang diinginkan, serta pada suatu sistem yang lengkap serta terpelihara (manage) maka memungkinkan monitoring dan evaluasi bisa dilakukan yang memungkinkan tujuan perencanaan bisa dijaga, dan bukan hanya sebatas perencanaan.

Hambatan dalam pemanfaatan GIS dalam perencanaan ruang justru muncul dari hal-hal diluar bidang GIS seperti ketersediaan data,  kemampuan operasional GIS, keberlanjutan pengoperasian GIS pasca pengerjaan perencanaan. Dalam banyak kasus disebutkan bahwa aplikasi GIS yang sesungguhnya dalam perencanaan  ruang terbentur oleh keterbatasan data. Hambatan lainnya yang ada adalah meskipun data tersebut ada, tetapi keberadaan data tidak dapat diakses.

Sebuah Solusi

Pengembangan sebuah lembaga yang menangani data spatial pada tingkat kabupaten atau propinsi dapat menjadi jawaban. Dimana lembaga ini mengkoordinir keberadaan data spatial ditingkat kabupaten dan kemudian menjadi pusat data bagi semua yang membutuhkannya. KOnsepnya sama dengan resource center, dimana dalam konsep Knowledge Management, resource center ini akan menaungi capturing, sharing data dan informasi.

Sejumlah protokol harus dibuat, sejumlah aturan main perlu dibuat. sehingga sebegitu banyaknya ata dan informasi spatial yang ada di masing2 sektor, lembaga, intitusi dll bisa diberdayakan secara spatial. Khususnya data spatial yang pengadaannya memang membutuhkan banyak dana.

Musnanda Satar

GIS Specialist and Regioanal Planner

%d bloggers like this: