fifth e-bulletin from the ICT4D programme


FYI… from PPGIS

We are pleased to attach the fifth e-bulletin from the ICT4D programme which focuses on forests, which is one of the themes of our research programme. Our e-bulletin is issued every 3 months, aimed at updating readers on an IDRC-funded pan-African research programme looking at Participatory-GIS and food security in Africa, and is edited by team members from Enda Lead Africa.

 Just to remind you, it’s a 3 year programme implemented in a number of African countries and looking at P-GIS in:

·         Water resources management, Benin

·         Community management of forests, Kenya and Rwanda; 

·         Adaptation to the effects of climate change, Malawi;

·         Land management, Senegal;

·         Management of traditional knowledge in the field of irrigation, Tunisia.

 Kindly distribute within your networks and pass on to us any contact details for interested persons and institutions.

 Many thanks,

 The coordination team

ICT4D programme


Gap Data Geografi Di Daerah


pulau-pulau terluar Indonesia di Papua

Mengutip berita yang merilis jumlah pulau setelah survei nama-nama pulau di Indonesia yang dilakukan Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi sejak tahun 2007 hingga akhir 2010 menunjukkan jumlah pulau di Indonesia 13.466 pulau. Meski ini masih laporan sementara, jumlah pulau di Nusantara tidak lebih dari itu.  Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Asep Karsidi menyampaikan hal ini pada Lokakarya ”Peranan UNGEGN (United Nations Group of Experts on Geographical Names) dalam Menunjang Kegiatan Tim Nasional dan Panitia Pembakuan Nama Rupabumi” di IPB International Convention Centre, Kamis (7/4) di Bogor.

Pertanyaan yang menggelitik saya adalah apakah daerah memiliki data yang sama mengenai jumlah pulau yang ada dalam lingkup wilayah administrasinya? Sebuah pertanyaan yang saya tahu jawabannya tidak… berdasarkan apa yang saya lihat dari wilayah wilayah yang saya datangi memang ada gap besar dalam kaitan dengan data geografi di wilayah-wilayah.

Atau mungkin karena sebagian besar wilayah yang saya kunjungi adalah wilayah wilayah pedalaman. Entahlah yang pasti wilayah-wilayah di kepualauan seperti Yapen atau wilayah lain di Papua misalnya tidak memiliki data geografi yang cukup termasuk diantaranya data-data mengenai jumlah pulau yang ada. Sementara kegunaan data tersebut sangatlah besar dalam kaitan dengan perencanaan wilayah. Keterbatasan data geografi sementara ini belum dianggap masalah oleh wilayah-wilayah tertentu karena tingkat kepedulian terhadap pentingnya data spatial masih sangat rendah. Sharing data geografi antara pusat dan daerah harusnya mulai dilakukan sejak sekarang. Sehingga daerah memiliki data geografi yang lengkap dan mampu menggunakan data tersebut untuk perencanaan wilayah.

 

 

 

Photography: Supermoon 19 March 2011


Canon EOS 60D, 135mm, speed 1/50, f 11, iso 200

On March 19, 2011 the Moon will pass by Earth at a distance of 356,577 kilometers (221,567 miles) – the closest pass in 18 years .

I don’t wanna miss my chance, with Canon EOS 60D go to Dok 2 beach where clear sky appear. Sky was not real clear with clouds but it is good enough to shoot supermoon pictures and some landscape at night.

Moon among clouds

Sky look so bright as you can see, I expected that electricity around Jayapura black out at this moment and everyone will go out and  look up to the sky.

Supermoon

All pictures taken with Canon EOS 60D from Jayapura city, Papua, Indonesia.

WaterWiki


Baru saja dapat informasi mengenai WaterWiki, seperti wiki wiki yang lain, yang memungkinkan profesional dibidang water bisa mendapatkan informasi dan juga berbagi mengenai pengelolaan air atau hal lain dibidang “air”.

Bisal follow link berikut: http://waterwiki.net

Nah buat geograf misalnya ada juga beberapa link ke peta-peta, termasuk peta-peta daerah aliran sungai/DAS bahkan ada peta-peta landcover.

http://waterwiki.net/index.php/Category:Map

Juga bisa di browse lagi ke sumber data aslinya: http://ocid.nacse.org/tfdd/index.php

sumber: http://ocid.nacse.org/tfdd/index.php

Web ini berisi data spatial seluruh dunia.

So cekidot dan selamat membaca.

Gempa dan Tsunami Jepang


Gempa Jepang yang terjadi tanggal 11 Maret 2011 merupakan gempa terbesar yang terjadi di Jepang selama 1000 tahun dan diikuti oleh terjadinya gelombang pasang Tsunami yang merusak wilayah bagian utara Jepang sepanjang pesisir.

Jepang dan beberapa negara lain di pasifik termasuk Indonesia merupakan wilayah yang masuk dalam jalur Pacific Ring of Fire yang merupakan jalur volkanik dan gempa bumi sepanjang 40.000 km berbentuk seperti tapal kuda.

Peta Jalur Ring of Fire, sumber wikipedia

USGS merilis bahwa gempa tersebut memiliki kekuatan 8.9 M sekala richter, dengan kedalaman pusat gempa 24,4 km. Letaknya sendiri di koordinat  38.322° lintang utara dan 142.369° bujur timur atau 130 km dari kota Sendai.

Magnitude 8.9
Date-Time
Location 38.322°N, 142.369°E
Depth 24.4 km (15.2 miles) set by location program
Region NEAR THE EAST COAST OF HONSHU, JAPAN
Distances 130 km (80 miles) E of Sendai, Honshu, Japan
178 km (110 miles) E of Yamagata, Honshu, Japan
178 km (110 miles) ENE of Fukushima, Honshu, Japan
373 km (231 miles) NE of TOKYO, Japan
Location Uncertainty horizontal +/- 13.5 km (8.4 miles); depth fixed by location program
Parameters NST=350, Nph=351, Dmin=416.3 km, Rmss=1.46 sec, Gp= 29°,
M-type=”moment” magnitude from initial P wave (tsuboi method) (Mi/Mwp), Version=A
Source
  • USGS NEIC (WDCS-D)
Event ID usc0001xgp

Lokasi gempa dapat dilihat dalam peta berikut:



Sumber: USGS
sumber USGS

Pemerintah Jepang meralat kekuatan gempa yang diperkirakan mencapai magnitude 9 SR. Seorang ahli di Jepang yaitu Professor Yugi Yaji dari Universitas Tsukuba berpendapat, gempa yang diberi nama resmi gempa Tohoku-Chiho Taiheiyo-Oki terjadi akibat pergerakan di beberapa area sekitar sumber energi gempa (focal point) secara bersama-sama. Menurutnya, hal tersebut yang mungkin bisa menimbulkan kekuatan gempa yang hanya bisa terjadi tiap sekitar 1.000 tahun sekali. Dan Takashi Furumura, profesor dari Universitas Tokyo, mengatakan, gempa Jumat kemarin bisa jadi gempa maksimum yang mengguncang Jepang. Gempa tersebut mungkin didorong gempa bermagnitude 7,2 yang mengguncang Miyagi Agustus 2005 lalu. Sebab berdekatan dengan pusat gempa tersebut adalah pusat gempa Miyagi. (Kompas.com).

Kekuatan gempa yang besar ini menyebabkan pergeseran sumbu rotasi bumi sebesar 25 cm seperti dilansir oleh BMKG Italia dan menyebabkan percepatan rotasi bumi 18 mikrodetik.

Tsunami

Pusat gempa yang terletak dilaut menyebabkan terjadinya gelombang Tsunami yang merusak wilayah wilayah pantai di sekitar pusat gempa. Kerusakan tsunami dan gempa merusak bangunan dan merusak wilayah pantai dengan gelombang laut yag masuk ke darat sampai puluhan km. Perkiraan dari Jefferies International Ltd menyebutkan, kerugian akibat guncangan gempa dan tsunami yang melanda Jepang pada hari Jumat lalu mencapai sekitar 10 miliar dollar AS atau Rp 87 triliun (kompas.com). Kerusakan yang paling parah adalah di propinsi Miyagi, video NHK memperlihatkan arus gelombang tsunami meruntuhkan bangunan  rumah dan juga menghempas perahu dan mobil layaknya mainan. Tsunami merusak dengan 2 cara yaitu melalui kekuatan gelombangnya yang memiliki kekuatan dan kecepatan besar dan yang kedua yaitu dengan masa air yang menggenangi wilayah tersebut. Diperkirakan kekuatan gelombang laut bisa mencapai 800 km perjam. Peristiwa yang sama dapat dilihat dalam kejadian tsunami yang terjadi di Aceh.

Tsunami sendiri berasal dari bahasa Jepang  津波, yang arti harfiahnya sama dengan gelombang pelabuhan “harbor wave” atau merupakan serangkaian gelombang pasang karena perpindahan volume air  yang besar diakibatkan oleh gempa atau letusan gunung. Di Jepang telah dicatat sekitar 196 kejadian tsunami dan yang pertama kali tercatat adalah tahun 1498 terjadi pada 20 September 1498 dengan sumber dari wilayah Laut Enshunada. Tsunami terjadi akibat gempa 8,3 magnitude. Sebanyak 31.000 orang tewas dalam bencana alam ini, disertai rusak parahnya 1.000 rumah di wilayah sekitar.

Tsumani yang terjadi pada gempa 11 Maret 2011 di Jepang  menyebabkan kerusakan yang sangat parah di wilayah pantai di Jepang. Hampir sama dengan kejadian di Aceh, jumlah korban jiwa akibat tsunami akan lebih besar daripada kejadian gempa tersebut.

Mengapa Rencana Tata Ruang Daerah Banyak Yang Belum DiSahkan?


Membaca berita di Kompas jumat 4 maret 2011 mengenai perumahan, disebutkan bahwa baru 18 dokumen tata ruang kabupaten/kota yang baru disahkan dari 491 kabupaten dan kota yang ada di Indonesia. Luar biasa…

Kekawatiran saya mengenai stagnannya perencanaan ruang dan aplikasi spatial di Indonesia ternyata bersambut dengan berita IAP (Ikatan Ahli Perencanaan) yang menggelar konferensi pers mengenai Kondisi Tata Ruang Indonesia yang dikatakan dalam kondisi darurat. Baca: ( http://properti.kompas.com…..Tata.Ruang.Indonesia.dalam.Kondisi.Darurat).

Disebutkan misalnya sejak kewenangan otonomi dibebankan kepada daerah, proses legalisasi peraturan daerah RTRW baru terlaksana di 7 propinsi, 14 Kabupaten, dan 4 kota. “Dari target 500-an Kabaputen dan Kota, baru 14 kabupaten dan 4 kota yang memiliki kepastian hukum berdasarkan UU nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Indonesia (TMII)

Dokumen Tata Ruang Wilayah seperti diamanatkan UU no 26 tahun 2007 memang memiliki kekuatan hukum yang mengikat kabupaten dan kota.

Mengacu pada PP No 68 TAHUN 2010, sebenarnya patut menjadi keprihatinan bersama bahwa penetapan dan pembuatan tata ruang di kabupaten-kabupaten di Indonesia belum selesai.  Dalam pasal 6 disebutkan:

Bentuk peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang berupa:

a. masukan mengenai:

1. persiapan penyusunan rencana tata ruang;

2. penentuan arah pengembangan wilayah atau kawasan;

3. pengidentifikasian potensi dan masalah pembangunan wilayah atau kawasan;

4. perumusan konsepsi rencana tata ruang; dan/atau

5. penetapan rencana tata ruang.

b. kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau sesama unsur masyarakat dalam perencanaan tata ruang.

Mengapa Daerah Sulit Menetapkan Rencana tata Ruang Wilayah

Jawabannya bisa dua:

1. Kurangnya kapasitas penyelenggara perencanaan di daerah dalam membuat Rencana Tata Ruang Wilayah. Kondisi ini juga diikuti oleh kurangnya kapasitas pengambil kebijakan daerah (Bupati, Walikota) dan kurangnya kapasitas legislatif (DPRD) untuk memahami pentingya aspek perencanaan pembangunan dalam memberikan arah bagi pembangunan daerah.

2. Konsekwensi hukum dari Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah, dimana ketika Dokumen Tata Ruang sudah ditetapkan maka sifatnya mengikat dan mejadi acuan dalam perencanaan ruang. Perubahan alokasi ruang tidak dimungkinkan tanpa proses yang melibatkan aspek hukum.

Aspek Geografi dalam Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan


Belajar lagi mengenai perubahan iklim membuat saya kembali ke 20 tahun yang lalu saat belajar meteorolgi dan klimatologi di kampus.

Perubahan iklim menurut wikipedia dapat diterjemahkan sebagai perubahan dalam jagka waktu lama dalam distribusi statistik dari pola cuaca menurut periode waktu mulai dari ratusan tahun hingga jutaan  tahun.

Climate change is a long-term change in the statistical distribution of weather patterns over periods of time that range from decades to millions of years. It may be a change in the average weather conditions or a change in the distribution of weather events with respect to an average, for example, greater or fewer extreme weather events. Climate change may be limited to a specific region, or may occur across the whole Earth.

Perubahan iklim di Indonesia bisa dibaca dalam web: http://iklim.dirgantara-lapan.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=85&Itemid=78.

Pertanian pada lereng terjal di Distrik Ninia, Kabupaten Yahukimo

Perubahan iklim ini dijelaskan lebih detail lagi menyebabkan terjadinya pemanasan global, perubahan iklim.

Ketahanan pangan dapat di terjemahkan sebagai kondisi dimana semua orang setiap saat mendapatkan akses fisik, sosial dan ekonomi pada makanan yang cukup, aman dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan makanan hariannya dan makanan untuk menunjang kegiatan dan kesehatan.

Food security is defined as a ‘situation […] when all people, at all times, have physical, social and economic access to sufficient, safe, and nutritious food that meets their dietary needs and food preferences for an active and healthy life’ (FAO, 2002). Food security is not narrowly defined as whether food is available, but whether the monetary and non-monetary resources at the disposal of the population are sufficient to allow everyone access to adequate quantities and qualities of food (Schmidhuber and Tubiello, dalam Ludi 2009).

Hubungan antara Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan

Perubahan iklim berpengaruh pada ketahanan pangan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya dengan perubahan iklim maka akan terjadi perubahan kapan turunnya  hujan, lamanya musim tanam, banjir, kekeringan, dll. Sementara secara tidak langsung akan berpengaruh terhadapat perubahan harga karena stok yang berkurang, pengaruh ke distribusi makanan, dll. Sebagai contoh di beberapa wilayah Indonesia seperti NTT atau NTB, pengaruh datangnya musim kering yang berubah ternyata berpengaruh besar pada produksi pertanian yang ada, demikian juga dengan beberapa wilayah lain di Jawa, dimana musim hujan yang extrem menyebabkan areal padi menjadi puso / gagal panen. Pada wilayah pesisir perubahan iklim berpengaruh pada saat turun ke laut yang terbatas karena besarnya gelombang yang menyebabkan hasil tangkapan ikan dan hasil laut lainnya menjadi lebih sedikit.

Pemerintah pada dasarnya sudah menyadari bahwa aspek perubahan iklim dan ketahanan pangan akan saling berkaitan dengan jelas. Presiden SBY misalnya dalam penyerahan penghargaan di bulan desember 2010 menyebutkan pentingnya ketahanan pangan dalam kaitan dengan perubahan iklim. Sementara itu dalam kegiatan di panen raya di Jawa Barat september 2010 misalnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa bersama-sama dengan Menteri Pertanian Suswono, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, dan beberapa pejabat lain menyadari bahwa aspke perubahan iklim mempengaruhi ketahanan pangan. Darwin 2001, menyebutkan bahwa kebijakan jangka panjang sangat dibutuhkan dalam kaitan dengan perubahan iklim dan inni membutuhkan informasi yang akurat mengenai dampak ekonomi akibat dari perubahan ikllim. Long-term policy responses require accurate informationabout the economic impacts of future climatic conditions. Despite recent advances in analyzing the economic effectsof global warming, information about climate change andfood security in developing countries remains extremelylimited. Specific details are lacking about the location, timing,magnitude, and probability with which food securityissues might arise. ERS will continue to conduct economicresearch that helps to assess the effectiveness of publicpolicies for responding to global warming.

Pada tingkat dibawahnya harus dilakukan advokasi kembali untuk meningkatkan awareness mengenai pentinya daerah melakukan antisipasi adanya perubahan iklim terhadap ketahanan pangan.

Aspek Geografi

Tentu saja aspek iklim dan cuaca terkait dengan segala fenomena yang terjadi dalam kaitan ruang, ini menjadikan pengetahuan geografi menjadi sangat penting dalam perencanaan kegiatan antisipasi ketahanan pangan dalam menghadapi perubahan iklim. Diteliti lebih dalam lagi bahwa perubahan iklim terkait erat dengan beberapa aspek, misalnya terjadinya bencana alam seperti banjir dan longsor melibatkan aspek keruangan yang sangat jelas. Peran ilmu geografi sangat diperlukan untuk mampu memetakan wilayah-wilayah dengan kondisi fisiknya seperti kelerengan, iklim, penggunaan tanah. Sesudah itu dapat dilakukan analisis geografi yang lebih mendalam dengan membuat analisis mengenai dampak dari perubahan iklim, aktifitas manusia dalam mengelola lingkungan, dll. Outputnya dapat digunakan dalam pengambilan keputusan terkait dengan strategi dalam menjamin adanya ketahanan pangan bagi masyarakat.

Bahan bacaan:

1. Ludy, Eva. Climate change, water and food security, ODI, March 2009

2.  Darwin, Roy. Climate Change and Food Security. 2001

3.Gregory, dkk, Climate Change and Food Security, Oct 2005  http://rstb.royalsocietypublishing.org/content/360/1463/2139.full.html#related-urls

4.  http://iklim.dirgantara-lapan.or.id/index.php

Landscape Conservation


Mungkin ini bukan istilah yang sering ditemui dalam tulisan-tulisan mengenai perencanaan pembangunan, tetapi sebenarnya istilah ini sudah diaplikasikan meskipun belum secara terintegrasi.

Saya pertama kali mendengar istilah ini tahun 2002 ketika tim dari WWF Amerika memperkenalkan konsep perencanaan wilayah dengan pendekatan ekologi. Bahkan saya menerima on job training dari ahlinya langsung, ada 2 orang yang saya ingat yaitu J. Morisson yang khusus datang ke Papua untuk memberikan training. Bersama J. Morisson kemudian saya ikut berangkat ke PNG untuk melakukan training yang lain. Menjadi perjalanan yang menarik karena selain mengikuti pertemuan  ecoregion, saya juga diminta menjadi trainer GIS buat partner WWF di PNG.

Saya melakukan pendataan dan analisis ecoregion di dua wilaah yaitu di wilayah vogelkop atau Kepala Burung di Papua Barat dan di wilayah Merauke/Wasur.  Lihat link berikut untuk pendekatan ecoregion.

http://www.worldwildlife.org/science/ecoregions/delineation.html

Landscape conservation dengan ecoregion pada dasarnya adalah pendekatan untuk mendelineasi kawasan penting konservasi berdasarkan representasi kawasan ekologi. Kawasan ekologi ini didelineasi menggunakan data-data geografi seperti ketinggian, vegetasi, iklim.

Ecoregion Dunia (diunduh dari http://www.conserveonline.org)

Istilah lain yang yang sering digunakan dalam kaitan dengan landscape conservation adalah bioregion. Diartikan sebagai:

Bioregion adalah kawasan atau wilayah geografis yang relatif luas dan memiliki bentang alam serta kekayaan jenis keanekaragaman hayati yang tinggi dimana proses lingkungan alaminya mempengaruhi fungsi-fungsi ekosistem didalamnya.

Bioregion terkait dengan sistem bentang alam, karateristik resapan air, bentukan lahan, spesies tumbuhan dan satwa fan budaya manusia.

Sementara penggunannya dikenal dengan bioregionalism wikipedia menuliskan: Bioregionalism is a political, cultural, and environmental system or set of views based on naturally-defined areas called bioregions, or ecoregions. Bioregions are defined through physical and environmental features, including watershed boundaries and soil and terrain characteristics. Bioregionalism stresses that the determination of a bioregion is also a cultural phenomenon, and emphasizes local populations, knowledge, and solutions.[1]

Konsep bioregion dan ecoregion dalam perencanaan sebenarnya sudah diadvokasi oleh beberapa lembaga swadaya masyarakat dibidang konservasi kepada pemerintah. Yang menjadi masalah adalah advokasi di tingkat nasional dan beberapa di tingkat propinsi tidak sampai ke kabupaten yang dengan otonominya membuat perencanaan wilayah sesuai dengan keinginannya sendiri. Yang terjadi adalah kesimpang siuran pengaturan kawasan lindung dan kawasan budidaya ketika dicoba dimozaik pada tingkat propinsi.  Karena fungsi kawasan secara ekologi tidak dipisahkan oleh batas administrasi.

Landscape planning yang saya pelajari mengharuskan konservasi wilayah di setiap kawasan ekologi dengan mendelineasi kawasan konservasi setidaknya 20 persen wilayah. Konservasi ini tentunya dengan berbagai jenis, mulai dari kawasan lindung sampai kawasan pemanfaatan terbatas.

Perencanaan Wilayah dan Konservasi

Pada banyak wilayah Indonesia kawasan konservasi masih merupakan perdebatan yang tidak ada habis-habisnya. UU Penataan Ruang menetapkan bahwa di setiap wilayah harus ditentukan kawasan lindung dan kawasan budidaya. Bagaimana kawasan lindung dan kawasan budidaya didelineasi di lapangan masih menjadi perdebatan yang belum selesai. Dalam banyak penentuan kawasan lindung misalnya masih banyak  perencana daerah yang masih menggunakan dasar teknis seperti bahwa kawasan lindung adalah kawasan dengan lereng lebih dari 40%, rentan terhadap longsor atau banjir, dll. Yang terjadi adalah kawasan lindung hanya didelineasi pada kawasan pegunungan, sementara kawasan dataran rendah dikonversi menjadi kawasan budidaya seluruhnya. Padahal dalam banyak kasus penentuan kawasan lindung harusnya lebih detail lagi dengan melihat keterwakilan ecologi. Intinya adalah semua kawasan harus dilindungi karena semua kawasan memiliki fungsi ekologi yang tidak tergantikan.

Jadi kalau ada ide memindahkan kawasan lindung ke wilayah lain karena ingin digunakan sebagai kawasan budidaya, merupakan ide yang sangat tidak pintar. Jakarta pernah melalukannya dengan memindahkan kawasan konservasi di wilayah utara ke kawasan yang mendekati wilayah Tanggerang dan kita bisa lihat akibatnya ketika musim hujan dengan banjir.

Saya ingin menulis lebih banyak, tapi harus buka-buka lagi semua literatur.

Ke Wamena: Bakar Batu, Honai dan Mumi


Banyak yang mengatakan bahwa kalau belum mengunjungi Wamena, maka belum mengunjungi Papua. Beberapa kali mengunjungi Wamena, tapi kali ini jadi momen bagus untuk ambil foto sebanyak-banyaknya karena pas bawa kamera sendiri dan bukan kamera kantor. Meskipun waktu sempit dan kerjaan banyak, kesempatan untuk ambil foto selalu ada disela-selanya.

Mungkin ada benarnya karena Wamena merupakan pemusatan penduduk wilayah Pegunungan Papua. Kota Wamena terletak di Lembah Baliem yang merupakan pusat dari suku Dani, suku terbesar populasinya di Papua. Wamena ditempuh denga transportasi udara yang tersedia setiap hari dari Jayapura. Jalan darat yang dulu pernah dibuat ternyata tidak bisa digunakan karena fasilitas pendukung yang tidak ada.

Pesawat; satu-satunya transportasi menuju Wamena

Kota Wamena terletak di lembah Baliem, lembah dataran tinggi yang dikelilingi oleh perbukitan dan gunung.

 
Lembah Baliem

Lembah Baliem dikelilingi oleh perbukitan yang merupakan bagian dari wilayah pegunungan tenga Papua. Para pendaki Cartensz bisa melewati rute utara melalui Wamena.

Puncak Jayawijaya merupakan puncak tertinggi di wilayah pegunungan tengah 4884 m. Di antara puncak-puncak gunung yang ada beberapa diantaranya selalu tertutup salju misalnya Pucak Trikora 4750 m, Puncak Yamin 4595m dan Puncak Mandala 4760m. Tanah pada umumnya terdiri dari batu kapur/gamping dan granit terdapat di daerah pegunungan sedangkan di sekeliling lembah merupakan percampuran antara endapan Lumpur, tanah liat dan lempung (need cross check) .

Pegunungan di Wamena yang mengelilingi Lembah Baliem
Batuan kapur merupakan jenis batuan yang membentuk pegunungan di sekitar wilayah Kurulu

Suku Dani sebagai suku terbesar yang mendiami lembah Baliem, selain itu ada suku Yali dan suku Kimyal, dll. Kebudayaan masyarakat suku asli dapat dikatakan sebagai budaya batu, dimana peralatan dibuat masih menggunakan batu dan sederhana sekali, misalnya kapak batu, tombak dan panah.

Suku Dani

Sementara rumah tradisional disebut dengan honai, yang dibuat dengan atap jerami dan kayu sebagai kerangka. Salah satu yang menarik dari suku dani adalah cara mereka membuat pagar yang tertata rapi, bisa dilihat dalam foto berikut.

Gabungan honai dan rumah semi permanen di Bulakme

Wamena juga terkenal dengan upacara tradisional bakar  batu, yang prosesnya dilakukan secara tradisional, dimulai dengan membakar batu sampai panas, membuat lubang, memasukkan sayuran dan ubi serta daging babi.

Upacara Bakar Batu

Perjalanan kali ini juga mengunjungi distrik  Bulakme, ditempuh dengan jarak sekitar 1 jam perjalanan darat dari pusat kota Wamena. Distrik ini masih merupakan wilayah kerja saya dan beberapa CBO dan CSO bekerja di wilayah ini.

Pemandangan Bolakme dengan kolam ikan yang merupakan bagian dari program PcDP
Anak-anak Bolakme malu difoto

Semoga besar mereka bisa jadi presiden seperti gambar Obama di kaos mereka.

Anak dari Bulakme

Kalau sudah sampai Wamena jangan lupa  jalan-jalan ke Kurulu untuk melihat mumi di distrik Kurulu. Menurut masyarakat, usianya sudah 368 tahun.

Mumi dari Kurulu 368 tahun usianya
Mumi dari Kurulu

Ormu Kecil


Ormu Kecil hanyalah sebuah desa kecil di kaki pegunungan Cyclops. Sebagai sebuah desa pantai maka Ormu kecil dikeliling oleh laut dengan pemandangan yang langsung ke Lautan Pasific. Merupakan desa tradisional yang menjadi pusat pemukiman penduduk asli Jayapura.

Pantai Ormu Kecil

Desa ormu kecil secara geografi merupakan celah pertemuan antara dua perbukitan, memiliki sungai kecil dengan beberapa air terjun yang bagus. Pertemuan antara laut dengan air tawar ini menjadikan wilayah ini unik dan menjadi lokasi pemukiman yang ideal. Hanya saja pantainya cukup curam dan tidak bisa di darati perahu.

air terjun di Ormu Kecil

Omu masuk kedalam kabupaten Jayapura, dapat ditempuh selama 1 jam melalui laut ke arah base G. Melewati laut berombak dengan pantai terjalnya dan beberapa spot bagus dengan pantai putihnya.

Pantai pasir putih Base G dari laut

Melewati pantai Base G, perjalanan masih melewati pantai-pantai curam dengan ombak yang cukup tinggi. Beberapa pantai secara alami memang mengalami perubahan fisik, dimana batuan-batuan pantai kemudian runtuh dan membentuk pola pantai yang baru.

Pantai curam sepanjang perjalanan
Formasi batu sepanjang pantai

Sebagai wilayah yang masih pristine Ormu Kecil merupakan wilayah dengan kekayaan biodiversity yang besar.

Kuskus
Pegunungan Cyclops

Potensi Pengembangan Wisata

Beberapa wilayah pedesaan yang terletak di kabupaten Jayapura dengan aksesiblitas yang ada merupakan wilayah dengan potensi pegembangan wisata alam yang besar. Ormu salah satunya, dengan kondisi geografis, biodiversity dan alamnya yang mengagumkan, wilayah ini bisa menjadi lokasi wisata yang  menggabungkan antara wisata pantai, hiking, budaya.

Pengembangan yang bisa diusulkan adalah membuat perencanaan yang partisipatif, dimana pengelolaan wisata sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat dimana pemerintah memberikan dukungan dalam bentuk penambahan infrastruktur, memudahkan aksesibilitas dengan alat transportasi dan pendampingan dalam hal management pengelolaan wisata dengan sederetan program pengembangan kapasitas ke masyarakat. Eco-wisata bisa menjadi pilihan paling tepat, dimana masyarakat dapat menerima manfaat secara langsung dengan tetap terjaganya ekosistem dan kelestarian alam.

 

Pulau karang di perjalanan menuju Ormu Kecil

——

Foto-foto diambil dengan  Canon EOS 60D (Canon 18-135 mm IS lenses)