Buat yang membutuhkan, berikut SK Menhut nomor 942 tahun 2013
https://www.dropbox.com/s/p4pl5p0jot8hvav/Peta_SK942.zip?dl=0
https://www.dropbox.com/s/ii5fevuos4chc8u/PP_NO_44_2004_PJS.DOC?dl=0
Buat yang membutuhkan, berikut SK Menhut nomor 942 tahun 2013
https://www.dropbox.com/s/p4pl5p0jot8hvav/Peta_SK942.zip?dl=0
https://www.dropbox.com/s/ii5fevuos4chc8u/PP_NO_44_2004_PJS.DOC?dl=0
Navigasi pada wilayah perkotaan mengalami perkembangan yang luar biasa. Bayangkan jika and ingin bepergian di kota-kota besar seperti Jakarta, anda bisa dengan mudah menggunakan GPS yang sudah tertanam dalam smartphone di kelas middle ke atas.
Adabanyak pilihan untuk navigasi perkotaan yang sudah memiliki data base, dan tentunya sistem data online yang bisa di akses bebas, diantaranya:
1. Google Maps
Google terus memperbaharui data dan sistem navigasi perkotaan, dimana pada peta google informasi yang ada didalamnya semakin lama semakin di update. Tentu saja sistem ini dilakukan oleh google sendiri plus oleh beberapa user melalui sistem pendataan secara online oleh user.
Kekuatan crowd sourcing menjadi satu kekautan yang luar biasa karena kemudian data tersebut semakin lama semakin banyak.Google hanya perlu melakukan proses verifikasi.
2. Waze
Waze menjadi pilihan paling baik saat ini (menurut saya) karena menyediakan data real time yang baik. Waze mengandalkan sistem berbasis crowd sourcing dimana data dihimpun oleh komunitas penggunanya secara real time.
Peta yang ditampilkan waze mampu memberikan gambaran kondisi lalu lintas terkini. Demikian pula dengan fitur navigasinya akan memberikan pilihan rute tercepat dengan menghindari jalan dalam kondisi macet.
Navigasi waze juga memberikan moda suara untuk memberitahukan jalan yang harus diambil.
3. Apple maps
Apple maps dengan pengguna yang terbatas pada handheld apple memberikan pilihan untuk pengguna untuk meng upload data. Tetapi sistem ini masih sangat tergantung pada proses update yang dilakukan oleh apple.
Dalam masa dimana crowd sourcing menjadi pilihan menarik, maka sangat baik jika kemudian sistem ini bisa dilakukan untuk mengumpulkan data spatial selengkap-lengkapnya dan dilakukan oleh pengguna melalui sistem crowd sourcing.
Jadi kalau data-data publik yang dikelola pemerintah masih menganut azas tertutup, maka jangan komplain jika kemudian data-data berbasis komunitas dengan crowd sourcing akan menjadi pilihan.
Ditengah semakin meredupnya update mengenai pelaksanaan ONEMAP oleh pemerintah yang seharusnya dilead oleh BIG dan lembaga lain seperti PU, Kehutanan, dll maka munculnya website Global Forest Watch Map dalam bentuk interactive web GIS wajib mendapat acungan jempol.
Untuk yang belum pernah mengujungi web GIS ini maka bisa mengakses melalui link berikut:
http://www.globalforestwatch.org/
Bagi yang sudah, tentunya masih bisa explore lagi untuk membuka update mengenai pemetaan komoditi seperti sawit, HTI dan tentunya tambang.
http://commodities.globalforestwatch.org/
Membuka data openstreetmap satu wilayah kota yang terpencil di Indonesia akan jadi pilihan menarik karena data jaringan jalan yang ditampilkan bisa jadi akan lebih detail daripada peta rupabumi keluaran lembaga “besar” yang sungguh sulit mengaksesnya. Openstreet merupakan menerapkan pola pengumpulan data dengan metode “crowdsourcing”, defined as the process of obtaining information from many contributors amongst the general public, regardless of their background and skill level.
Pengumpulan data spatial bisa dikatakan bukan lagi sebuah proses yang mahal sulit dilakukan. Perangkat-perangkat yang dimiliki saat ini sudah mendukung kegiatan,misalnya beberapa jenis mobile phone yang digunakan oleh sebagian pengguna kelas menengah sudah dilengkapi dengan GPS. Demikian pula dengan akses internet sudah dapat dilakukan dengan biaya yang lebih murah dan sudah menjangkau wilayah-wilayah yang jauh.
Beberapa aplikasi yang dapat dilakukan dengan Crowd Source:
1. Perencanaan berbasis masyarakat
Kegiatan perencanaan dapat dilakukan dengan menggunakan crowd sourcing dimana perencanaan dapat dilakukan dengan melibatkan peserta sebanyak mungkin secara sukarela. Pada kegiatan ini yang dibutuhkan adalah sebuah flatform yang membantu untuk menampilkan kondisi yang ada serta menarik input sebanyak mungkin dari masyarakat. Misalnya rencana pembangunan sekolah dapat dilakukan melalui suatu konsultasi publik secara online untuk mendapat masukkan yang paling tepat dengan memandang lokasi dari sisi kebutuhan dan pandangan masyarakat sebagai pengguna.
2. Pendataan fasilitas dan utilitas umum
Data-data dasar seperti jalan raya, nama jalan, sekolah, rumah sakit, dll dapat didata dengan mudah jika menggunakan crowd sourcing. Data lokasi dapat dilakukan dengan memberi fasilitas pengguna untuk meng-upload koordinat yang didapat baik dari penggunaan mobile phone yang menggunakan GPS atau dengan menggunakan fasilitas peta online seperti google.
4. Pendataan tematik khusus
Beberapa peta tematik khusus seperti peta-peta lokasi wisata, lokasi kuliner dan lokasi belanja banyak didapatkan dengan menggunakan crowd sourcing. Bayangkan berapa banyak data yang bisa dihimpun oleh server foursquare.
Crowd sourcing bisa menjadi pilihan yang menarik, ketika teknologi sudah bisa terjangkau dan akses internet yang semakin mudah. Tentu saja harus diatur sedemikian rupa supaya hasil dari pemetaan dengan crowd sourcing ini bisa dipertahankan.
Global Positioning System atau disingkat GPS adalah sistem navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit yang dikembangkan dan dikelola oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. GPS dapat memberikan informasi tentang posisi, kecepatan dan waktu di mana saja di muka bumi setiap saat, dengan ketelitian penentuan posisi dalam fraksi milimeter hingga meter. GPS memiliki jangkauannya seluruh dunia dan dapat digunakan banyak orang setiap saat pada waktu yang sama.
Satelit GPS mengelilingi bumi dua kali sehari dalam orbit yang sangat tepat dan mengirimkan sinyal informasi ke bumi. Penerima GPS mengambil informasi dan menggunakan triangulasi untuk menghitung lokasi yang tepat bagi pengguna. Pada dasarnya, penerima GPS membandingkan waktu sinyal yang ditransmisikan oleh satelit dengan waktu yang diterima. Perbedaan waktu tersebut memberitahu penerima GPS seberapa jauh satelit tersebut. Sekarang, dengan pengukuran jarak dari beberapa satelit, receiver dapat menentukan posisi pengguna dan menampilkannya pada peta elektronik unit.
24 satelit yang membentuk ruas angkasa GPS mengorbit bumi sekitar 12.000 mil atau 19,300 km di atas permukaan bumi. GPS terus-menerus bergerak, membentuk dua orbit lengkap dalam waktu kurang dari 24 jam. Satelit ini bergerak dengan kecepatan sekitar 7.000 kilometer per jam. Satelit GPS bergerak didukung oleh energi surya dan memiliki baterai cadangan untuk satelit mereka berjalan jika terjadi gerhana matahari atau ketika tidak ada tenaga surya. Pendorong roket kecil pada setiap satelit menjaga mereka terbang di jalur yang benar.
Berikut adalah beberapa fakta menarik lainnya tentang satelit GPS atau juga disebut NAVSTAR, Departemen Pertahanan nama untuk GPS AS resmi:
Beberapa factor yang mempengaruhi ketelitian data GPS tergantung pada:
Ada banyak tipe dan merek GPS yang dipergunakan. Perkembangan teknologi GPS bahkan digabungkan dalam smartphone.
Dalam manual ini akan ditampilkan jenis Garmin 76csx yang memang digunakan oleh TNC, tampilan Garmin 76csx sebagai berikut
Beberapa tombol pengoperasian
GPS Garmin 76csx memiliki 6 halaman antarmuka yaitu:
– Halaman satelit yang menggambarkan nomor serta jumlah satelit yang tertangkap dan kekuatan signal-nya.
– Halaman trip computer yang menampilkan data kecepatan, waktu tempuh, ketinggian
– Halaman map yang menggambarkan posisi dan peta dasar
– Halaman compass yang menampilkan arah mata angina,kecepatan, waktu tempuh dan jarak (kelokasi yang ditentukan)
– Halaman altimeter yang menampilkan data ketinggian
– Halaman main menu atau menu utama yang menampilkan icon untuk akses kesemua fungsi GPS
Pengaturan GPS
Sebelum memulai penggunaan GPS dapat dilakukan proses Pengaturan/Set Up yang dilakukan dengan cara
Pengambilan Titik Koordinat (waypoint)
Pengambilan jalur (track)
Tergantung pada pengaturan GPS, track biasanya dicatat secara otomatis. Track yang sudah dicatat dapat dihapus dan atau disimpan.
Sebelumnya track log bisa diatur pada Track Log Setup
Saat ini pengolahan data GPS dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana. GPS dapat dengan mudah disambungkan ke komputer dengan menggunakan kabel ke port USB. Dengan menggunakan fungsi import dan atau dengan menggunakan extension Data Interoperability maka data dalam format gpx dari GPS dengan mudah dapat ditampilkan dan diolah dengan ArcGIS.
Urutan prosesimport Data GPX
Dengan Arctoolbox pilih Conversion tools
Pilih from GPS pilih GPX to Features
Tentukan nama dan lokasi file GPX yang akan diimport
Tentukan nama output (bisa dalam bentuk geodatabase atau shp)
Klik OK
Gunakan Extension Data Interoperability
Klik Arctoolbox klik Data Interoperability klik Quick Import
Pilih format GPX dan lokasi serta nama file
Akan terbentuk data geodatabase yang berisi titik koordinat dari gps
Hasil tampilan titik GPS yang telah dikonversi ke ArcGIS
Ditangkapnya bupati Bogor oleh KPK dikaitkan dengan isu korupsi atas pelanggaran tata ruang seharusnya menjadi pelajaran berharga untuk pelaksanaan tata ruang di Indonesia. UU 26 tahun 2007 tentang penataan ruang seharusnya memang diimplementasikan lebih detail lagi untuk bisa menjerat para pelanggar tata ruang dengan hukuman yang sesuai.
Telah banyak kritik atas pelaksanaan perencanaan tata ruang, mulai dari keterlambatan daerah dalam membuat dokumen RTRW dimana dalam kurun waktu yang telah ditentukan ternyata masih banyak wilayah yang belum membuat dan mensahkan dokumen RTRW.
Ada aspek penting yang menjadi PR bersama dalam pelaksanaan tata ruang wilayah, yaitu monitoring dan evaluasi pelaksanaan tata ruang. Belum adanya peraturan yang mendukung kegiatan monitoring dan evaluasi menjadi satu alasan mengapa kegiatan monitoring dan evaluasi belum dilakukan. Ada sebuah kegiatan yang didukung JICA dalam kegiatan PU untuk menyusun sistem monitoring dan evaluasi tata ruang dengan menggunakan GIS. Sayangnya selama belum menjadi peraturan, maka tidak akan banyak daerah yang akan melakukannya terkait dengan aspek hukum jika terjadi pelanggaran tata ruang.
Sudah saatnya pelaksanaan monitoring dan evaluasi tata ruang dilaksanakan sehingga pelanggaran-pelanggaran penataan ruang yang berujung pada dampak-dampak negatif bisa dicegah.
Praktek monitoring dan evaluasi Tata Ruang boleh dibilang belum dilakukan secara terstruktur oleh lembaga yang berkompeten dalam penataan ruang, misalnya PU dan atau Bappenas. Beberapa inisiatif yang sudah dilakukan antara lain:
– Monitoring Pelaksanaan Pembuatan Dokumen RTRW Provinsi dan Kabupaten
– Monitoring Pelaksanaan Kegiatan Perencanaan secara general
Yang diharapkan sebenarnya adalah monitoring pelaksanaan tata ruang, dimana dapat dilakukan sebuah hasil yang menggambarkan apakah penataan ruang yang direncanakan dan kegiatan pengelolaan ruang yang berjalan sesuai atau tidak.
Beberapa sistem monitoring dan evaluasi pelaksanaan Tata Ruang yang bisa dilakukan adalah:
1. Membangun Sistem Berbasis Web
Ini akan menjadi pilihan paling mudah untuk diusulkan dimana penyelenggara perencanaan ruang pada tingkat nasional sampai tingkat kabupaten memiliki sistem yang terintegrasi dan menggunakan basis data yang sama.
Sistem ini akan lebih baik lagi jika dibangun dengan tambahan fitur webGIS, dimana data zonasi pemanfaatan ruang dan struktur ruang dipetakan dan dipublish dengan menggunaka WebGIS.
Setiap kegiatan yang dilakukan kemudian dapat di cross check secara online melalui sistem webGIS. Misalkan dalam peta RTRW struktur ruang telah ditetapkan rencana pembangunan jalan dari lokasi A ke lokasi B dengan kelas jalan C. Dalam pelaksanaan, bisa dipetakan jalan yang dibuat, kelas jalan dan dibandingkan dengan rencana awal yang dibuat.
2. Menggunakan Sistem Berbasis Partisipatif
Ini adalah pilihan yang sebenarnya diamanatkan oleh UU Keterbukaan Informasi Publik dan Kebijakan lain yang mendorong Partisipasi Masyarakat dalam Penataan Ruang. Dimana masyarakat dapat melakukan proses cross check, pengaduan dan melakukan pembaharuan data kegiatan pembangunan untuk kemudian di cross check dengan rencana awal dalam dokumen RTRW.
Proses analisis dengan ArcGIS adalah proses menggabungkan informasi dari beberapa layer data yang berbeda dengan menggunakan operasi spatial tertentu dimana kita memulai dari ide yang kita kembangkan dan diaplikasikan dalam berbagai hal.
Proses analisis untuk menjawab pertanyaan yang terkait dengan ruang disebut juga analisis spatial. Analisis spatial ini dilakukan dengan menggunakan analisis data vector, analisis data citra satelit dan analisis data tabular yang ada.
Dalam melakukan analisis dilakukan beberapa langkah:
Analisis dilakukan dengan tahapan tersebut dengan diawal oleh menentukan permasalahan atau pertanyaan kunci sebagai leading dalam melakukan analisis. Dalam kaitan tata ruang misalnya; Bagaimana zonasi yang tepat untuk menentukan kawasan lindung dan kawasan budidaya? Ini merupakan pertanyaan kunci yang kemudian bisa dijabarkan lagi menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih detail;
– Bagaimana status zonasi berdasarkan tata ruang sebelumnya?
– Bagaimana tutupan lahan yang ada?
– Bagaimana penggunaan lahan yang ada?
– Bagaimana sebaran wilayah penting untuk konservasi?
– Bagaimana sebaran wilayah penting pengembangan ekonomi?
– Bagaimana sebaran penduduk?
– Bagaimana sebaran fasilitas-fasilitas bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang kemudian memandu proses-proses selanjutnya dalam analisis dengan GIS.
Dalam proses selanjutnya dilakukan pengumpulan dan pengecekan data, dimana data-data yang dibutuhkan dalam analisis GIS dikumpulkan dan kemudian dilakukan pengecekan dalam beberapa aspek seperti format data, skala, sumber, tinkat kedetailan (skala), dll. Sesudah proses ini dilakukan proses penyiapan data berupa penyamaan format, system koordinat, dan kemudian melengkapi data-data yang diperlukan dari berbagai sumber data atau membangun data yang ada sendiri.
Penentuan metode analisis dilakukan sesidah semua data yang dibutuhkan untuk analisis sudah tersedia. Analisis yang dilakukan terdiri atas berbagai jenis analisis, dengan menggunakan metode analisis yang sesuai dalam menjawab semua pertanyaan tersebut.
Selanjutnya adalah proses analisis, proses ini dilakukan dengan menggunakan data dan metode yang telah diisi. Proses analisis dapat dilakukan menggunakan metode yang telah ditetapkan dalam menjawab pertanyaan. Proses analisis bisa sederhana atau kompleks, misalnya pertanyaan tutupan lahan yang ada? Dijawab dengan mengunakan analisis citra satelit kemudian dioleh dengan software remote sensing dan menghasilkan tutupan lahan yang ada. Berbeda dengan pertanyaan bagaimana penggunaan lahan? Ini membutuhkan analisis yang kompleks karena penggunaan lahan membutuhkan proses verifikasi di lapangan dengan menggunakan survey dan pengolahan data yang kompleks.
Hasil analisis harus kemudian diperiksa kembali misalnya hasil akhir zonasi yang dikeluakan kemudian di cross check kembali secara baik. Hasil analisis yang menggabungkan banyak data, ada kemungkinan kesalahan seperti kesalahan koordinat atau kesalahan menentukan parameter. Pengecekan dilakukan dengan merunut baik data serta metode yang digunakan.
Analisis yang akan dibahas dalam modul ini adalah analisis dengan menggunakan ArcGIS. Analisis yang dilakukan terbatas pada analysis tools dalam arctoolbox, yang terdiri atas:
Dalam ArcGIS fungsi ini analisis ini terbagi lagi dalam banyak fungsi misalnya untuk extract kemudian dibagi lagi atas clip, select, split dan table select. Demikian juga degan overlay, proximitt dan statistics terdiri atas beberapa pilihan analisis.
KLIK LINK BERIKUT UNTUK MENDOWNLOAD BAGIAN BAB VI.
Mengikuti kegiatan Forest Asia Summit 2014 membuat saya belajar pada isu-isu forest dari berbagai negara. Salah satu aspek yang menjadi tema adalah sustainable landscape yang ternyata memiliki horizon yang sangat luas dan kemudian membuat banyak sekali masukkan mengenai pendekatan pada landscape yang perlu menjadi pertimbangan dalam pengelolaan hutan.
Isu forest, climate change sangat dekat untuk kawasan Asia, dimana 24 % dari emisi di Asia berasal dari alih fungsi kawasan hutan menjadi kawasan non hutan. Beberapa aspek yang dibahas dikaitkan dengan aspek food security, disaster dan livelihood dan juga energy. Pembicaraan mengenai mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang dikaitkan dengan hutan memang harus dibahas lebih banyak dibandingkan hanya dengan memfokuskan pada isu carbon. Beberapa alasan seperti skema insentif yang belum jelas, kemudian skema adaptasi dan mitigasi yang belum dipikirkan matang menjadi alasan mengapa pembicaraan ini seharusnya dibahas lebih dari pembahasan emisi karbon.
Masyarakat di Asia, misalnya di Indonesia masih banyak menggantungkan hidup pada hutan sebagai penyedia berbagai kebutuhan. Hilangnya hutan karena kegiatan ektraksi dan alih fungsi lahan dalam beberapa studi tidak berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan. Bahkan pada sekala waktu yang panjang akan menyebabkan kemiskinan. Apalagi jika kemudian aspek kemiskinan dikaitkan dengan indeks pembangunan manusia dimana kemudian masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada keberadaan hutan, pada sumberdaya air, dll.
Sayangnya saya tidak menemukan materi yang mengkaitkan sustainable landscape ini dengan Tata Ruang dalam pembahasan yang lebih detail. Padahal rona hutan kemudian ditentukan oleh penataan ruang yang menentukan kawasan sebagai go or no go untuk alih fungsi lahan di Indonesia dan mungkin dibanyak negara lain. Ada beberapa penyampaian mengenai forest moratorium dan beberapa kebijakan berbasis spatial yang kemudian menyumbang pada pencegahan alih fungsi hutan ke land use lain tanpa pertimbangan yang berkelanjutan.
Bagaimana kawasan pengelolaan ruang di Indonesia dilihat berikut:
Kebijakan dalam alokasi hutan akan menentukan apakah kemudian akan berkontribusi pada perubahan kawasan hutan. Dengan struktur seperti ini maka akan lebih bijak jika kemudian dibuat sebuah prioritas pengelolaan kawasan yang memperhatikan keseluruhan aspek, lengkap dengan pilihan kebijakan yang akan menjadi pilihan mitigasi dan adaptasi. Pilihan ini akan langsung berkontribusi pada target penurunan emisi, target penyelamatan biodiversity dan target peningkatan kesejahteraan (yang bukan melulu dihitung dari GDP).
Pada session yang ada di dalam Forest Summit, kemudian beberapa inisiatif insentif, dll didasarkan pada sebuah strategi yang matang pada tingkat yang lebih tinggi.
Berbagi data mungkin masih merupakan kebiasaan yang tidak biasa.
Tapi untuk saya berbagi data adalah suatu yang seharusnya kita biasakan.
Sebagai pengguna GIS, satu sama lain harus bisa berbagi data dan pengetahuan.
Data Spatial BPS Sarmi 2010
Sarmi https://www.dropbox.com/s/cmklgtkp9ksrm7b/BPS_Sarmi.zip
Mimika https://www.dropbox.com/s/ykht988uq1ho40e/mimika.zip
Asmat https://www.dropbox.com/s/vj5b3dooth73h3q/asmat.zip
Mamberamo Raya https://www.dropbox.com/s/ptlvx8spdrdj4jh/mamberamoraya.zip
Data Peta Rupabumi Sarmi
Rupabumi Sarmi sheet1 https://www.dropbox.com/s/oycwyvoeqb9edev/3312_34.zip
Need more for Sarmi… please leave your request in comments tools