
I just develop a Story Maps about Orangutan Conservation that could be accessed through link:
https://tnc.maps.arcgis.com/apps/MapSeries/?appid=5e2941b0e7034bbda910e084be6df3c3

I just develop a Story Maps about Orangutan Conservation that could be accessed through link:
https://tnc.maps.arcgis.com/apps/MapSeries/?appid=5e2941b0e7034bbda910e084be6df3c3
Pertama kali menginjakkan kaki di Papua tahun 2000 saya baru tahun ini mendengar begitu banyaknya penerbangan di Papua terhenti karena asap.
Tahun ini sebaran titik api di Papua sangat banyak, Hasil analisis September dan Oktober 201 5 ini menyebutkan ada 10096 fire alerts dengan 2755 titik api yang hampir pasti. Sebaran terbesar ada di Kabupaten Merauke dan Mappi. Secara lebih detail dapat dilihat seperti berikut ini.


Secara detail sebaran per kabupaten dapat dilihat di tabel berikut:

Bicara tentang kebakaran, Merauke memang merupakanwilayah savana dan secara alami akan mengalami kebakaran sepanjang tahun. Tetapi wilaya seperti Mappi, Teluk Bintuni atau Sorong pada dasarnya bukan wilayah alami yang mengalami kebakaran.

Lalu apa yang menjadi pemicu semakin besarnya angka titik api di Papua? Faktor fenomena iklim el nino bisa menjadi satu alasan, tetapi el nino terbesar pada tahun1997 misalnya tidak menyebabkan kebakaran hebat di Papua seperti sekarang.
Expansi Perkebunan Sawit
Sejak saya di Papua saya tahu beberapa lokasi seperti Kabupaten Jayapura, Kabupaten Manokwari yang telah memiliki perkebunan sawit. Wilayah di Selatan Papua saat itu belum ada perkebunan sawit, ada banyak alasan mengapa selatan tidak ada sawit karena kondisi wilayah yang memang tidak sesuai untuk sawit di wilayah rawa dan mangrove.
Tetapi belakangan ini wilayah selatan seperti Mappi dan Timikan mulai dilirik untuk expansi sawit.
Entah ada kaitan atau tidak, yang pasti expansi pembukaan lahan untuk sawit sejalan dengan peningkatan titik api .
Berau Post merilis bahwa kejadian di Berau dengan perubahan warna sungai dan kematian biotanya diakibatkan oleh cyanobacteria. Sumber dari internet dan kutipan riset berbagai Universitas di dunia menyebutkan bahwa bakteri ini sudah ada sejak 3, juta tahun yang lalu. Bakteri inilah yang menjadi awal dalam teori evolusi karena dapat hidup di wilayah beroksigen rendah dan kemudian melakukan fotosintesa untuk menghasilkan oksigen. Siklus hidup bakteri ini yang pendek kemudian menjadi masalah karena ketika mati proses peruraiannya menggunakan oksigen.
Perubahan warna air sungai Segah menjadi hijau dan diikuti kematian semua jenis ikan, termasuk ikan gabus dan lele, disebabkan keberadaan cyanobacteria. Cyanobacteria atau sianobakteria adalah sebuah filum bakteri yang mendapatkan kebutuhan energinya melalui fotosintesis. http://www.beraupost.co.id/berita/detail/disebut-faktor-cyanobacteria.html
Yang berbahaya adalah ketika populasi ini berkembang sangat cepat atau proses nya disebut blooming. Kandungan phospor dan amoniak yang tinggilah yang menyebabkan perkembangan cyanobacteria.
Cyanobacteria can produce neurotoxins, cytotoxins, endotoxins, and hepatotoxins (i.e. the microcystin-producing bacteria species microcystis), and are called cyanotoxins.
Specific toxins include, anatoxin-a, anatoxin-as, aplysiatoxin, cyanopeptolin, cylindrospermopsin, domoic acid, nodularin R (from Nodularia), neosaxitoxin, and saxitoxin. Cyanobacteria reproduce explosively under certain conditions. This results in algal blooms, which can become harmful to other species, and pose a danger to humans and animals, if the cyanobacteria involved produce toxins. Several cases of human poisoning have been documented, but a lack of knowledge prevents an accurate assessment of the risks.[48][49][50] Recent studies suggest that significant exposure to high levels of some species of cyanobacteria producing toxins such as BMAA can cause amyotrophic lateral sclerosis (ALS). The Lake Mascoma ALS cluster [51] and Gulf War veterans’ cluster are two notable examples.[49][50][52]”sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Cyanobacteria
Freshwater algal blooms are the result of an excess of nutrients, particularly some phosphates.[2][3] The excess of nutrients may originate from fertilizers that are applied to land for agricultural or recreational purposes. They may also originate from household cleaning products containing phosphorus.[4] These nutrients can then enter watersheds through water runoff.[5] Excess carbon and nitrogen have also been suspected as causes. Presence of residual sodium carbonate acts as catalyst for the algae to bloom by providing dissolved carbon dioxide for enhanced photo synthesis in the presence of nutrients. sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Algal_bloom
Phospate sekali lagi harus dilihat lebih detail karena ini bisa saja dihasilkan dari proses pertambangan misalnya pertambangan
Phosphate deposits can contain significant amounts of naturally occurring heavy metals. Mining operations processing phosphate rock can leave tailings piles containing elevated levels of cadmium, lead, nickel, copper, chromium, and uranium. Unless carefully managed, these waste products can leach heavy metals into groundwater or nearby estuaries. Uptake of these substances by plants and marine life can lead to concentration of toxic heavy metals in food products. In Germany, the use of uranium-contaminated standard phosphate fertilizers in farming has been linked to significantly raised uranium levels in drinking water.[15] In some areas, it has led to recommendations to use bottled water, instead of tap water, to prepare food for babies and small children. sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Phosphate
Sekali lagi menurut saya yang perlu di uji secara detail adalah kandungan logam, kandungan material di air, bukan hanya ikan atau biota yang mati saja. Dan ini dilakukan pada lokasi lokasi yang merupakan penyebab kandungan phospate dan amoniak.
Pada awal Oktober 2015 Kabupaten Berau dikagetkan dengan berita matinya ribuan ikan-ikan di Sungai Segah. Beberapa sumber media seperti Berau Post dan Kaltim Post menyebutkan matinya ikan di Berau ditemukan mulai dari wilayah Labanan, Gunung Tabur, Teluk Bayur sampai ke Tanjung Redeb sendiri.
Apa penyebabnya masih menjadi tanda tanya karena Badan Lingkungan Hidup Berau baru merilis hasil analisis berupa PH air 4,06 sementara ambang batas 6-9, selain itu kadar oksygen air 0,7 mg/l sementara ambang normal adalah 6 mg/l dan kadar amonia 3,1 mg/l sementara ambang normal adalah 0,5 mg/l. Angka yang dibawah normal ini mengindikasikan adanya pencemaran air tetapi sayangnya belum ada penjelasan resmi mengenai kadar kandungan mineral dalam air (sumber: Berau Post, 7 October 2015).
Spekulasi mengenai penyebab kematian ikan yang di media mulai dari limbah tambang, limbah sawit serta spekulasi yang tidak jelas mengenai tenggelamnya kapal pengangkut tawas. Tetapi penyebab sebenarnya harus menunggu analisis yang saat ini sedang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Berau.
Total 30 km sungai yang terpengaruh oleh pencemaran tersebut, ada informasi bahwa sampai ke Batu-batu dan jika benar maka sepanjang 60 km. Seperti terlihat pada peta Google Earth berikut:

Sepanjang sungai tersebut merupakan wilayah diketahui matinya ribuan ekor ikan. Tetapi pengaruhnya lebih besar tentunya pada pada semua penduduk di sepanjang kawasan DAS Segah yang menggunakan air sungai untuk kehidupan sehari-hari.
Analisis Spatial Sederhana
Tulisan di Berau Pos, 7 Oktober berjudul “Mungkinkah Air Beracun?” oleh Abidinsyah, mantan Kepala BLH Berau periode 2003 -2004 menyebutkan bahwa kandungan logam berbahaya di sungai Segah pada tahun 2003 sudah 500% dari ambang normal dan limbah sawit 600% dari ambang normal.
Saya ingin membuktikan bahwa secara spatial statement tersebut sangat sesuai dengan kondisi sekitar sungai seperti terlihat pada peta berikut:

Sepanjang sungai Segah pada lokasi matinya ikan terdapat hamparan luas Kebun Sawit yang luasnya sekitar 6000 ha yang sudah dibuka. Pada wilayah ini juga terdapat pertambangan batubara yang luasnya pada kisaran 100 ha baik yang berada dibagian utara maupaun bagian selatan sungai Segah.
Sawit merupakan jenis usaha yang menggunakan pupuk dalam jumlah yang sangat besar, pupuk ini yang terlarut dalam air akan menyebabkan kadar amonia yang tinggi pada air. Mengutip sesuai informasi pada Berau Post maka bahwa sangat sesuai data tahun 2003 dengan kandungan amonia terbaru yang ada sekarang 600% dari kondisi normal.
Peta berikut memperlihatkan kebun yang sangat dekat dengan anak sungai Segah dan pada saat terjadi hujan memungkinkan pencucuian pupuk sawit saat terjadi hujan.

Sementara itu kandungan logam dimungkinkan dari limbah pertambangan, mengingat lokasi tambang yang sangat dekat dengan sungai atau anak sungai memungkinkan outlet pembuangan yang kemungkinan bisa masuk ke sungai. Kasus seperti yang terjadi di Kalimantan Selatan (baca: http://tekno.tempo.co/read/news/2014/12/03/061626234/limbah-tambang-batu-bara-racuni-sungai-di-kalsel) bisa menjadi pembanding dampak penambangan batubara terhadap kualitas air sungai.
Peta berikut memperlihatkan lokasi tambang yang sangat dekat dengan sungai Berau di Tangap yang memungkinkan adanya pencemaran ke sungai.

Lokasi lain yang juga memungkinkan untuk diteliti adalah wilayah rawa dekat dengan tambang yang limpasan air-nya dapat masuk ke sungai Segah.

Untuk sampai pada kesimpulan penyebab matinya ikan-ikan di sungai Segah haruds analisis yang detail dengan menggunakan uji lab hasil lab untuk memastikan penyebab matinya ikan-ikan tersebut. Hasil uji lab harus dilakukan secara seksama baik dengan mengambil sample air, mengambil sample ikan yang mati, mengambil sample sedimen sungai pada kawasan tercemar.
Hasil analisis spatial secara sederhana dengan menggunakan Google Earth diatas dapat dijadikan acuan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam memastikan penyebab terjadinya peristiwa matinya ikan-ikan di sungai Segah. Lokasi yang ditunjukkan merupakan indikatif yang dapat di follow up untuk lokasi pengambilan sample air atau ikan atau sedimen.
Peta berikut adalah usulan lokasi sample air, di sepanjang sungai Segah serta 2 lokasi di sungai Berau dan sungai Kelay sebagai pembanding.

Bahkan jenis ikan seperti cat fish yang tahan juga ikut mati, berikut adalah beberapa foto:
Semoga tulisan ini berguna untuk kepentingan penyelamatan lingkungan di Berau.


Saat ini analisis kebakaran hutan bukan lagi merupakan suatu yang sulit untuk dilihat. Kemudahan akses internet dan tools online membuat siapapun dengan mudah mengetahui kebakaran hutan dan lokasinya.
Secara reguler NASA memberikan update lokasi hotspot melalui web: https://earthdata.nasa.gov/earth-observation-data/near-real-time/firms
Saat ini dengan menggunakan GFW Fires kita bisa melalukan analisis dengan mudah. Caranya cukup dengan menggunakan web base dengan akses ke web: http://fires.globalforestwatch.org/#v=home&x=115&y=0&l=5&lyrs=Active_Fires
Berikut adalah hasil analisis yang saya lakukan untuk Kaltim.
Rangkuman Analisis Hotspot Kal

This post part of latest post about my trip and what I learn from my trip.
When I was arrived in San Diego at summer time in July 2015, I feel like arrived in one of city in tropical city. It’s rain when I was arrived but next couple days nice summer days with sun and heat.

San Diego is one of the top-ten best climates in the Farmers’ Almanac[58] and is one of the two best summer climates in America as scored by The Weather Channel.[59] Under the Köppen–Geiger climate classification system, the San Diego area has been variously categorized as having either a semi-arid climate (BSh in the original classification[60] and BSkn in modified Köppen classification)[61] or a Mediterranean climate[62] (Csa and Csb).[63] San Diego’s climate is characterized by warm, dry summers and mild winters with most of the annual precipitation falling between December and March. The city has a mild climate year-round,[64] with an average of 201 days above 70 °F (21 °C) and low rainfall (9–13 inches [230–330 mm] annually). Dewpoints in the summer months range from 57.0 °F (13.9 °C) to 62.4 °F (16.9 °C).[65]
The climate in San Diego, like most of Southern California, often varies significantly over short geographical distances resulting in microclimates. In San Diego, this is mostly because of the city’s topography (the Bay, and the numerous hills, mountains, and canyons). Frequently, particularly during the “May gray/June gloom” period, a thick “marine layer” cloud cover will keep the air cool and damp within a few miles of the coast, but will yield to bright cloudless sunshine approximately 5–10 miles (8.0–16.1 km) inland.[66] Sometimes the June gloom can last into July, causing cloudy skies over most of San Diego for the entire day.[67][68] Even in the absence of June gloom, inland areas tend to experience much more significant temperature variations than coastal areas, where the ocean serves as a moderating influence. Thus, for example, downtown San Diego averages January lows of 50 °F (10 °C) and August highs of 78 °F (26 °C). The city of El Cajon, just 10 miles (16 km) inland from downtown San Diego, averages January lows of 42 °F (6 °C) and August highs of 88 °F (31 °C). (source Wikipedia.


Arrived at San Diego Airport you can see some scene in Airport that shown history of San Diego. Some feature that you can see are miniature of plane from WW II that link with San Diego as Navy base in US.

Some historical display a the airport that describe gold rush and early stage of San Diego development.

San Diego County as part of California state spread 190 km along west coast of US to south part of border with Mexico.
San Diego well known as US navy based and also tourism areas for spring break, with very good climate regime San Diego have no cold extreme during winter.
With an estimated population of 1,381,069 as of July 1, 2014,[9] San Diego is the eighth-largest city in the United States and second-largest in California. San Diego is the birthplace of California[11] and is known for its mild year-round climate, natural deep-water harbor, extensive beaches, long association with the U.S. Navy, and recent emergence as a healthcare and biotechnology development center.
Historically home to the Kumeyaay people, San Diego was the first site visited by Europeans on what is now the West Coast of the United States. Upon landing in San Diego Bay in 1542, Juan Rodríguez Cabrillo claimed the entire area for Spain, forming the basis for the settlement of Alta California 200 years later. The Presidio and Mission of San Diego, founded in 1769, formed the first European settlement in what is now California. In 1821, San Diego became part of newly independent Mexico, and in 1850, became part of the United States following the Mexican–American War and the admission of California to the union (Wikipedia).

San Diego combined between sky scrapper and coastline settlement and tourism areas.




As planner, I will always see city structure and tried to learn from that.
San Diego lay along coastline consist 9 city council. I see that areas could defined into business areas that located along the coastline and settlements that located far from coastline. Some settlement might laid near coastline such as Coronado with long history settlements for navy.

City structure following multiple nucleus with several sector based.

Some urban areas developed.

I also attended ESRI User Conference in July, a huge conference with 16.000 participants from all over the world.


All photos taken during my trip to San Diego and Colorado. San Diego trip for participated in ESRI User Conference 2015 from July 20-24. Colorado trip for some training and also technical discussion for Development by Design approach.
Leaving at nigh in Jakarta, I will arrived morning in Tokyo for layover. My plan to have 10 hours layover and travel in Tokyo cancelled due to no visa and no flight available.
This will be photography posting, but every trip should bring something to learn.

If you like to have a picture, make sure that you choose window seat and avoid seat at wing part (middle row), you have to choose whether front of far in back seat.
DSLR camera will be great, you can use tele lenses that makes you possible to get more detail photos.
I used my iphone 5s to take all pictures.
This portrait photos that showing more about information in vertical. You should takes portrait for feature such as roads or river.

Almost all international flight provided trip maps with actual GPS position. You can capture by camera to see where you are.


Japan is a modern country with very good infrastructure. This infrastructure provided not only at urban areas but spread cover all country including rural areas. This fact different with developing countries that leave gap between facility at rural and urban areas.
Rural areas also develop with a good planning. As regional planner, I am jealous that good planning implemented in all areas. River banks should clear from building and there supposed to be an open areas. Later when this area develop into semi urban or urban areas then this river bank could be a very nice place for parks or other recreational areas.

You can see from above that infrastructure such as road, bridge and other facility develop in good quality even at farming areas. Wide road, long bridge anticipated for long period.


From above I could see good quality settlements and also some building for further crops processing unit.

You can also see that even at rural areas there are shops and other public facility with a good quality parking lots and this building surrounded by nice tree cover.

As you can see some areas remaining cleared, I assumed that this is forest area.
You might surprise to see below picture huge roads and also a cycle turn in paddy field. How this happen? Based on my prediction that this development to anticipated long term development plan. With this anticipation government provided more secure transportation issue for next 10 and maybe 25 years ahead.

I am wondering that some lesson learnt from this will use for development planning, transportation planning in Indonesia

Salah satu aspek penting dalam memunculkan partisipasi masyarakat dalam penataan ruang adalah adanya informasi tata ruang.
Tata ruang merupakan informasi spatial yang hanya efektif ditampilkan dalam bentuk peta. Menampilkan data peta menjadi syarat utama adanya feedback dari masyarakat untuk membangun Tata Ruang yang partisipatif dan sesuai dengan dinamika serta kebutuhan masyarakat.
Sayangnya informasi tata ruang sangat sedikit ditampilkan dalam website yang dapat diakses oleh publik.
Hampir tidak ada website provinsi yang memasukkan data tata ruang.Kalimantan Timur mencoba memasukkan data tata ruang, dan sudah menyiapkan platform online yang tentu nantinya akan berisikan data Tata Ruang jika sudah ditetapkan.

Beberapa data tata ruang justru beredar melalui blog-blog.
Ada beberapa isu yang menjadi topik di ESRI User Conference.
1. Story Map
Menjadi trend yang menarik karena produk ini dapat memberikan pilihan bercerita dengan peta.
Klik link berikut untuk memulai:
http://storymaps.arcgis.com/en/
1. ArcGIS Pro
Merupakan produk yang dikeluarkan ESRI dan tentunya memberikan pilihan bagi pengguna.
Apa yang menjadi kelebihan ArcGIS Pro:
– Bekerja dengan multi project
– Dapat membuat multi layout (ingat ArcVIew? :))
ArcGIS Pro bisa dilihat lebih detail di web ini:
http://www.esri.com/software/arcgis-pro
“The resulting map, released in 2013, shows how Earth’s forests changed between 2000 and 2013. “It is the first global assessment of forest change in which you can see the human impact,” said Masek. And the message is: People have had a huge impact on forests.”
sumber:http://earthobservatory.nasa.gov/Features/LandsatBigData/
Masih ingat waktu data Kehutanan di Indonesia adalah data rahasia yang sangat sulit di akses? Jaman itu untuk mengetahui tutupan hutan dengan citra satelit diperlukan biaya yang besar untuk membeli citra satelit dan mengolahnya.
Saya melakukan kegiatan pengolahan citra Landsat 7 untuk kawasan hutan di Papua di tahun 2002 dan menjadi salah satu data yang dipakai untuk kegiatan konservasi. Untuk kegiatan ini diperlukan budget yang besar.
Saat ini dengan smartphone dan akses internet, data citra bisa dilihat melalui google atau melalu layanan peta digital online lainnya.Tidak perlu biaya besar dan proses yang rumit. Langkah penting selanjutnya adalah bagaimana memaksimalkan data yang ada untuk kegiatan konservasi atau kegiatan lain.
Pada saat ini data-data tutupan hutan sudah dapat diakses online, peran citra satelit menjadi sangat penting dimana citra seperti Landsat memberikan informasi ril mengenai kondisi suatu wilayah.
Kondisi ini kemudian yang memberikan fakta sebenarnya, tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.
Salah satu riset yang dapat dikatakan paling advance dalam analisis land cover adalah apa yang dilakukan University of Maryland yang bekerja sama dengan Google untuk melakukan kajian pada 700.000 citra Landsat dan menghasilkan data tutupan lahan terbesar di dunia. Dengan bantuan super computer dengan 100.000 CPU dan 1 juta jam analisis maka dihasilkan data tersebut. Bayangkan jika menggunakan PC biasa maka proses ini dilakukan dalam 15 tahun.
Hasilnya adalah menggambarkan perubahan tutupan lahan antara tahun 2000-2013. Dimana pada gambar berikut untuk wilayah Kalimantan,perubahan tutupan hutan pada skala besar diakibatkan oleh ekspansi perkebunan sawit.

Detailnya dapat dilihat di web berikut: http://earthenginepartners.appspot.com/google.com/science-2013-global-forest
Pada gambar yang lain misalnya dapat dilihat ada proses perubahan kawasan besar-besar di Timika yang kemungkinan besar adalah expansi sawit juga.
